Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dinas Kebudayaan Buleleng Kembali Gelar Pentas Akhir Pekan. Buka Ruang Kreasi Bagi Sekaa dan Sanggar

Eka Prasetya • Minggu, 25 Januari 2026 | 09:20 WIB

 

UNJUK AKSI: Penampilan salah satu sanggar dalam pagelaran akhir pekan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bung Karno.
UNJUK AKSI: Penampilan salah satu sanggar dalam pagelaran akhir pekan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bung Karno.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Dinas Kebudayaan Buleleng kembali membuka ruang ekspresi bagi para seniman lokal melalui pementasan seni rutin di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Bung Karno.

Panggung terbuka ini menjadi wadah bagi sekaa, sanggar, dan komunitas seni di Buleleng untuk tampil setiap akhir pekan, sekaligus mendekatkan seni tradisional dengan masyarakat luas.

Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng, Nyoman Wisandika mengatakan, pementasan seni di RTH Taman Bung Karno telah berlangsung hampir empat tahun sejak pertama kali digelar pada Mei 2022, bertepatan dengan peresmian kawasan tersebut.

“Sejak awal, kami bersama Dinas Lingkungan Hidup mengundang sekaa, sanggar, dan komunitas seni di seluruh Buleleng untuk tampil setiap akhir pekan. Tujuannya sederhana, menyediakan ruang, waktu, dan panggung bagi seniman untuk mengekspresikan karya mereka,” jelasnya.

Menurut Wisandika, keberadaan panggung terbuka ini memberi pengalaman baru bagi banyak sanggar yang sebelumnya hanya tampil di lingkungan desa atau pura. 

Kini, mereka dapat mempersembahkan karya seni di ruang publik dengan jumlah penonton yang jauh lebih besar dan beragam.

“Testimoni para seniman sangat luar biasa. Mereka merasa bangga dan bahagia karena bisa tampil di ruang publik dengan penonton yang begitu antusias. Ini juga melatih mental dan kepercayaan diri mereka,” ungkapnya.

Setiap akhir pekan, jadwal pementasan diatur melalui sistem pendaftaran terbuka. Sanggar dan komunitas seni dapat mendaftar secara daring melalui Google Form maupun dengan mengajukan surat langsung ke Dinas Kebudayaan. 

Tidak ada proses seleksi khusus karena kegiatan ini sepenuhnya ditujukan sebagai ruang ekspresi seni.

“Kami tidak melakukan seleksi. Siapa pun yang siap tampil kami fasilitasi. Kalau jadwal berbenturan, bisa kami barungkan. Prinsipnya, semua mendapat kesempatan,” tegas Wisandika.

Dinas Kebudayaan juga memfasilitasi seluruh kebutuhan pementasan, mulai dari panggung, karpet, tata suara, hingga penyediaan gamelan bagi sanggar yang tidak memilikinya. 

Bahkan, bagi sanggar yang tidak memiliki penabuh, Dinas Kebudayaan melalui Sekaa Gong Praja Gurnita siap membantu mengiringi para penari.

Selain menjadi ruang pelestarian seni tradisional, kegiatan ini turut memberi dampak positif terhadap perekonomian warga sekitar. 

Ramainya penonton setiap akhir pekan ikut menggerakkan aktivitas kios, pedagang, dan area parkir di sekitar RTH Taman Bung Karno.

“Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Ini tidak hanya tentang seni, tapi juga menggerakkan ekonomi lokal,” tambahnya.

Beragam jenis kesenian ditampilkan, mulai dari tari tradisional, tabuh, wayang, hingga kolaborasi antar sanggar. 

Untuk tahun 2026, format pementasan diatur dengan durasi minimal 1,5 jam untuk setiap sanggar. Pentas seni umumnya digelar setiap Sabtu malam mulai pukul 19.00 WITA, kecuali pada hari besar keagamaan tertentu. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#kebudayaan #Taman Bung Karno #ruang terbuka hijau #rth #Sanggar #komunitas #seniman #panggung terbuka #seni tradisional #penonton #buleleng #sekaa