SINGARAJA, RadarBuleleng.id - UPTD Museum Lontar Gedong Kirtya terus memperluas akses pengetahuan berbasis lontar melalui program kajian naskah yang digarap lebih mendalam.
Dalam empat tahun terakhir, lembaga ini telah menerbitkan 19 buku hasil kajian, jauh melampaui kegiatan alih aksara dan alih bahasa yang selama ini menjadi layanan rutin.
Kepala Museum Lontar Gedong Kirtya, Dewa Ayu Putu Susilawati mengatakan, kajian naskah merupakan agenda tahunan untuk menggali kandungan intelektual setiap lontar secara komprehensif.
Program ini, ujarnya, dirancang untuk menjembatani warisan pustaka Bali dengan kebutuhan publik, khususnya dunia pendidikan.
“Tujuan kajian naskah ini mengulik lebih dalam lontar per lontar, agar isinya lebih diketahui. Sejak 2022 sampai 2025, ada 19 buku yang kami terbitkan,” kata Susilawati.
Tahun ini, museum memfokuskan kajian pada tema rempah. Para penulis yang terlibat merupakan ahli di bidangnya, sementara materi diambil dari koleksi lontar Gedong Kirtya.
Kajian dilakukan dari empat aspek, baik itu dari seni, upacara, pengobatan, dan makanan.
Salah satu naskah yang dibahas adalah Dharma Caruban, yang memuat pengetahuan tentang rempah dalam makanan beserta kandungan kimianya.
Ada juga kajian Usada Manak yang mengacu pada lontar usada beling dan usada tenung beling. Keduanya mengulas pengobatan tradisional terkait kehamilan.
Susilawati menegaskan, kajian seperti ini penting agar museum tidak hanya menjadi tempat alih aksara, tetapi juga pusat edukasi yang mampu memperkaya referensi masyarakat.
“Kalau dikaji secara mendalam, hasilnya berguna untuk kita semua. Isi lontar sangat banyak, tapi mustahil semuanya diteliti karena keterbatasan dana,” ujarnya.
Tema kajian juga disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung. Misalnya, survei menunjukkan banyak pengunjung mencari rujukan babad.
Tahun depan, jika museum menggelar pameran wayang, pihaknya akan menghadirkan ahli yang dapat menjelaskan referensi wayang berbasis lontar koleksi Gedong Kirtya.
Upaya ini, kata Susilawati, bertujuan mempermudah pengunjung mencari referensi.
“Museum harus memberi pelayanan prima dalam berbagai bentuk. Buku-buku kajian ini menjadi koleksi baru, dan jika ingin menyalin atau fotokopi, kami persilakan,” ungkapnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya