SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Suara gong dan kendang menggema dari Balai Banjar Paketan, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng, Rabu (20/5/2026).
Menariknya, di antara para penabuh yang memainkan tabuh khas Bali utara itu, ada sekelompok mahasiswa asing asal Kanada begitu antusias mengikuti setiap irama gong kebyar Buleleng.
Mereka adalah mahasiswa dari University of Waterloo, Kanada. Para mahasiswa datang langsung ke Buleleng untuk mendalami seni tabuh Bali utara.
Tidak sekadar belajar, para mahasiswa itu bahkan tampil satu panggung bersama Sekaa Gong Eka Wakya dalam pementasan kolaboratif yang menyita perhatian warga setempat.
Semangat para mahasiswa asing tersebut terlihat sejak awal pementasan. Dengan penuh konsentrasi, mereka memainkan tabuh gong tua hingga lelonggoran khas Buleleng.
Sesekali senyum dan ekspresi kagum terlihat saat mereka berhasil menyelaraskan permainan gamelan dengan para penabuh lokal.
Kelian Gong Eka Wakya sekaligus Kelian Adat Banjar Paketan, I Ketut Sunada mengatakan, proses belajar para mahasiswa Kanada itu sudah dimulai jauh sebelum mereka tiba di Bali.
Mereka terlebih dahulu mengikuti pembelajaran secara daring bersama perwakilan Sekaa Gong Eka Wakya.
“Materi yang dipelajari meliputi lelonggoran dan sekatian, yang menjadi bagian dari kekayaan tabuh khas Banjar Paketan,” ujarnya.
Menurut Sunada, antusiasme mahasiswa asing mempelajari gong kebyar Buleleng menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat adat. Sebab, seni tradisi Bali utara kini mulai dikenal dan dipelajari hingga mancanegara.
Sebelum tiba di Buleleng, rombongan mahasiswa itu lebih dulu menjalani pelatihan intensif di Sanggar Cudamani, Pengosekan, Ubud.
Setelah itu mereka melanjutkan pendalaman materi ke Banjar Paketan untuk mempelajari karakter tabuh khas Bali utara yang memiliki tempo dan dinamika berbeda.
Dalam pementasan tersebut, mahasiswa University of Waterloo membawakan empat repertoar.
Mulai dari Gilak aransemen Dewa Suparta, Tari Pendet, Lelonggoran khas Buleleng, hingga Padurasa, sebuah komposisi karya mahasiswa sendiri.
Associate Professor of Ethnomusicology University of Waterloo, Maisie Sum menyebut pengalaman tampil bersama seniman lokal Bali menjadi momen yang sangat berharga bagi para mahasiswa.
Selain memperdalam kemampuan bermusik, kegiatan itu juga membuka pemahaman mereka terhadap filosofi dan budaya Bali.
“Kami berharap hubungan ini dapat terus berlanjut dan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas di masa mendatang,” katanya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya