SUKASADA, RadarBuleleng.id - Penyuluh Bahasa Bali di Kabupaten Buleleng, mendadak menyerbu rumah milik Komang Agus Darmawan, di Banjar Dinas Kembang Sari, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, pada Kamis (8/2/2024).
Mereka semua kompak mengenakan pakaian adat madya. Kaosnya berwarna merah, sementara bagian depan terlihat sablon dengan aksara Bali. Khas seragam lapangan penyuluh Bahasa Bali.
Pagi itu, para penyuluh Bahasa Bali di Kabupaten Buleleng sengaja menyerbu rumah Komang Agus Darmawan. Warga Desa Panji itu diketahui memiliki koleksi lontar dari leluhurnya. Namun sudah puluhan tahun tidak tersentuh.
Para penyuluh akhirnya turun tangan melakukan upaya identifikasi dan konservasi lontar. Sebanyak 16 orang penyuluh Bahasa Bali dikerahkan dalam aksi tersebut.
Lontar-lontar itu disimpan di dalam peti yang diletakkan pada kamar suci milik keluarga. Saat dikeluarkan dari dalam peti, lontar sudah dalam kondisi kering, kotor, dan bagiannya sudah terlepas hingga berhamburan alias sambrag.
Alhasil perlu kesabaran dan ketelitian ekstra bagi tim konservasi saat melakukan identifikasi. Mengingat bagian-bagian lontar sudah tercerai berai. Hal itu cukup menyulitkan para penyuluh dalam bekerja.
Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng, Putu Pertama Yasa mengungkapkan, pemilik lontar awalnya memberikan informasi kepada penyuluh Bahasa Bali bahwa dia memiliki lontar warisan dari leluhur. Ia mendapat warisan dari buyutnya.
Penyuluh kemudian memberikan tawaran untuk melakukan konservasi lontar. Namun tawaran itu tidak langsung mendapat jawaban.
“Karena itu warisan keluarga besar, mereka belum sempat rembug keluarga,” kata pria yang akrab disapa Ame itu.
Penyuluh akhirnya terus melakukan pendekatan secara personal. Keluarga diberikan pemahaman bahwa konservasi dan perawatan akan dilakukan di rumah. Selain itu keluarga juga tidak dibebani biaya apa pun.
“Kekhawatiran utama itu kan naskah akan diambil. Setelah diberi penjelasan, keluarga mengerti dan bersedia lontarnya dikonservasi,” imbuhnya.
Hasil identifikasi tim konservasi, ada sebanyak 15 cakep lontar dengan 17 judul. Baik itu dari kategori kanda, wariga, usada, maupun embat-embatan. Judulnya juga beragam. Seperti penerang, penyarang, piwelas, kawisesan, dan pipil.
Lontar-lontar tersebut merupakan kategori naskah umum. Salinannya pun terdapat di Museum Lontar Gedong Kirtya.
Salah satu yang menarik adalah temuan pipil dan kwitansi jual beli tanah. Pipil sebenarnya hal umum, namun yang istimewa adalah kwitansi jual beli tanah.
Dalam kwitansi itu tercantum bahwa keluarga itu sempat memiliki tanah seluas 71 hektare di wilayah Desa Panji. Namun tanah itu sudah dilepas pada pihak lain.
“Ada legalitas kepemilikan berupa stempel juga. Kemungkinan stempelnya terbuat dari kayu. Tapi kondisinya sudah tercecer, tidak lengkap. Jadi tidak banyak informasi yang didapat,” ungkap Ame.
Selanjutnya lontar-lontar tersebut langsung dikonservasi. Lontar-lontar itu dibersihkan dengan minyak serai dan dioleskan dengan kemiri. Sehingga lontar-lontar yang tersisa tidak dimakan rayap.
“Semua sudah kami identifikasi. Kami bersihkan dan konservasi. Jadi astungkara bisa disimpan lebih lama,” lanjutnya.
Sekadar diketahui, pada tahun ini Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng telah melakukan identifikasi dan konservasi lontar di dua lokasi. Selain di Desa Panji, konservasi juga telah dilakukan di Dadia Pasek Gelgel Desa Banjar, pada Januari lalu. (*)
Editor : Eka Prasetya