SUKASADA, RadarBuleleng.id - Wayan Sumitra, 30 berdiri termenung melihat lahannya. Lahan seluas 45 are di Dusun Munduk Kunci, Desa Tegallinggah itu penuh dengan tanaman jagung. Usianya baru hitungan hari.
Dulunya, petak ladang jagung di wilayah Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng itu adalah sawah. Tapi sudah dua kali musim tanam sawah itu tidak ditanami padi. Petani memilih menanam palawija. Itu pun untung-untungan bila ada air.
Wayan menuturkan, menanam padi kini sama dengan bertaruh. Peluang mendapat hasil masih terbuka, namun ancaman gagal panen tak kalah besar. Apalagi sudah setahun ini air sulit mengalir.
Pemicunya pembagian jatah air. Warga setempat menyebutnya dengan gadon. Kebetulan lahan yang Wayan gunakan bercocok tanam tidak kebagian gadon. Sehingga dia hanya bisa mengandalkan tadah hujan.
“Padi tidak bisa tumbuh maksimal, hasil panen pasti anjlok. Sudah dua musim (tanam) ini kami sulit air,” ungkap Wayan saat ditemui belum lama ini.
Sebagai perbandingan saja. Jika berhasil menanam padi, ia bisa memanen 4 ton gabah. Namun bila tidak air, maka hasilnya bisa merosot hingga separonya. Bahkan bisa gagal total.
Meski kini masuk musim kemarau basah, Wayan tidak mau ambil risiko. Dia enggan menanam padi, karena ancaman gagal panen masih terbuka.
“Saya tanam jagung saja sekarang. Tidak bisa harap banyak, yang penting bisa panen dan ada hasil,” kata Wayan sembari membersihkan gulma yang tumbuh di sela-sela jagung.
Hal serupa diungkapkan Ketut Ritis, 50. Petani yang juga berasal dari Desa Tegallinggah itu, memilih menanam komoditas lain. Berbeda dengan Wayan, Ketut lebih memilih menanam kacang hijau.
“Kalau tanam padi terus, kami rugi. Jadi saya coba tanam kacang hijau. Airnya cukup, dan harganya juga lumayan,” ujarnya.
“Daripada sawah kosong, lebih baik tanam yang bisa hidup meskipun air susah. Hidup harus jalan terus,” imbuh Wayan sambil membersihkan gulma di ladang jagungnya.
Para petani kini tidak punya pilihan. Mereka hanya berharap hujan turun. Agar tanah mereka subur kembali, sehingga tak ada ancaman gagal panen. (kontributor: Gede Budiasa)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya