Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Masuk Musim Kemarau, Perbekel Madenan Khawatir Desanya Kekeringan

Eka Prasetya • Minggu, 30 Juni 2024 | 23:03 WIB
AIR BERSIH: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng menyuplai air bersih ke Desa Madenan pada tahun 2020 lalu.
AIR BERSIH: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng menyuplai air bersih ke Desa Madenan pada tahun 2020 lalu.

TEJAKULA, RadarBuleleng.id - Musim kemarau mulai mengintai. Sejumlah daerah di Buleleng pun diprediksi mengalami kekeringan dan krisis air bersih.

Salah satu desa yang langganan mengalami krisis air bersih adalah Desa Madenan di Kecamatan Tejakula. Hampir tiap tahun desa ini mengalami krisis air.

Pada tahun 2023 lalu, aparat desa setempat masih bisa bernafas lega. Karena suplai air masih mencukupi.

Namun tahun ini, aparat desa mulai was-was. Apalagi kemarau tahun ini diprediksi akan berlangsung lebih panas dan lebih panjang.

Perbekel Madenan, Gede Mustika mengungkapkan, selama ini warga mengandalkan sumber air bersih dari desa tetangga. Tepatnya dari Desa Selulung, Kintamani, Bangli, yang ada di sisi selatan.

“Memang kendala terbesar kami itu air bersih. Ada beberapa warga yang terdampak. Memang tidak semuanya,” kata Mustika.

Baca Juga: Warga di Desa Gerokgak Krisis Air, Sumur Semakin Kering

Menurut Mustika, produktivitas masyarakat di Desa Madenan cukup tinggi. Mereka harus menggunakan air bersih untuk konsumsi pribadi, mengairi lahan perkebunan, serta untuk minum ternak.

Pada musim hujan, kondisi itu relatif tidak masalah. Saat hujan, air cukup melimpah. Seluruh rumah akan kebagian air bersih.

Tapi pada saat musim ternak, puluhan bahkan ratusan kepala keluarga akan terdampak krisis air bersih.

“Kami ada 5 banjar di Madenan. Banjar Kajanan, Kelodan, Sangambu, Gentuh, dan Keduran. Kalau kemarau, secara sporadis di setiap banjar itu ada saja warga yang terdampak air bersih,” kata Mustika.

Baca Juga: Tangani Krisis Air Bersih di Bali Utara, Begini Strategi Dinas PU Buleleng

Pada musim kemarau, debit air dari Bangli akan menurun. Sehingga tidak mampu mencukupi kebutuhan semua warga.

Kondisi makin pelik, karena air bersih digunakan untuk konsumsi pribadi maupun konsumsi ternak warga.

“Warga kami sekarang ini masih berupaya mengoptimalisasi cubang. Karena kan kadang masih ada saja hujan di selatan. Jadi airnya juga mengalir ke sini,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat membantu desa menambah sumber mata air dari kawasan hulu.

“Kalau memang bisa dapat Pamsimas lagi, harapan kami bisa memperluas jaringan pipa nanti. Karena faktanya saat ini kami masih kekurangan,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, Putu Ariadi Pribadi mengungkapkan, Desa Madenan sebenarnya tidak masuk dalam zona rawan air bersih.

Baca Juga: Yayasan IDEP Gandeng Made Taro, Mendongeng di Buleleng Soal Krisis Air

Menurut Ariadi, berdasarkan analisa kajian risiko bencana, hanya dua desa di Kecamatan Tejakula yang rawan air bersih. Yakni Desa Sembiran dan Desa Julah.

Meski begitu, tidak menutup kemungkinan desa-desa lainnya akan terdampak krisis air bersih.

Ia menghimbau agar aparatur desa bisa menginformasikan ke BPBD Buleleng apabila terjadi krisis air bersih.

“Kami akan berupaya menyuplai air bersih untuk kebutuhan warga. Nanti tinggal desa bersurat saja, kami akan drop air bersih ke bak penampungan,” demikian Ariadi. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#tejakula #air #air bersih #kekeringan #Madenan #perbekel #buleleng #krisis air