Antre Lift, Khawatir Terlambat, dan Bahasa Mandarin yang Bikin Kepala Pusing


Jurnalis Radar Buleleng, Eka Prasetya, mendapat kesempatan mengikuti program China International Press Communication Centre (CIPCC). Program ini diikuti 100 jurnalis dari 90 negara. Ia akan tinggal di Beijing, Tiongkok, hingga bulan Agustus mendatang. Berikut catatan perjalanannya.
SIANG itu, langit Beijing sedang cerah. Jarum jam baru menunjuk pukul 13.30 WITA ketika saya mulai berjalan menuju Lide Building, salah satu gedung perkuliahan paling sibuk di kawasan Renmin University of China. Di sanalah kelas Bahasa Mandarin untuk peserta CIPCC digelar.
Penyelenggara program tampaknya benar-benar serius membuat kami bisa berbicara Bahasa Mandarin. Meski mungkin hanya sebatas kalimat sederhana untuk bertahan hidup selama di Tiongkok.
Dalam sepekan, kami mendapat dua kali kelas. Masing-masing berlangsung selama 3,5 jam. Total tujuh jam belajar Bahasa Mandarin setiap minggu.
Jumlah yang cukup untuk membuat kepala terasa penuh oleh nada, intonasi, dan pelafalan yang kadang terdengar mirip semua bagi telinga orang Indonesia.
Perjalanan menuju ruang kelas siang itu terasa berbeda. Ribuan mahasiswa mulai keluar dari asrama.
Mereka berjalan cepat menuju gedung kuliah masing-masing. Tidak ada yang tampak santai. Semua bergerak dengan ritme yang nyaris sama: cepat dan tepat waktu.
Di kampus ini, disiplin soal waktu benar-benar tidak main-main. Terlambat semenit saja, mahasiswa bisa kehilangan kesempatan masuk kelas. Karena itu, banyak mahasiswa sudah bersiap bahkan 30 menit sebelum perkuliahan dimulai.
Masalahnya, bukan hanya soal jarak. Lift di gedung-gedung tinggi kampus sering berubah menjadi arena adu kesabaran.



