SINGARAJA-Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Buleleng memohon agar enam artefak/situs yang ada di Bali utara, yang menjadi hasil penelitian, bisa dibawa kembali ke tempatnya, yakni Buleleng.
Pergerakan ini dilakukan, agar artefak/situs tersebut tidak dibawa ke Jakarta.
Untuk diketahui pada Jumat (14/6), Disbud Buleleng melalui Bidang Sejarah dan Cagar Budaya mendatangi Kantor Kerja Bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Denpasar. Tujuannya, membahas surat permohonan koleksi tersebut.
Kepala Bidang (Kabid) Sejarah dan Cagar Budaya Disbud Buleleng, Nyoman Widarma menyebut ada enam situs yang mereka mohonkan, agar bisa diserahkan ke Museum Buleleng.
Yakni masing-masing stupika dan tablet tanah liat dari situs Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng dan situs Umeanyar, Kecamatan Seririt.
Kemudian masing-masing fragmen tembikar dari situs Pangkung Paruk, Kecamatan Seririt dan di situs Tamblingan, Kecamatan Banjar.
Selanjutnya ada sarkofagus kayu dari situs Temukus, Kecamatan Banjar. Serta fragmen individu, fragmen periuk, dan fragmen tembikar dari situs Pacung-Sembiran, Kecamatan Tejakula.
Kata Widarma, artefak-artefak itu merupakan hasil penelitian dari Balai Arkeologi (Balar) yang dilakukan di Kabupaten Buleleng beberapa waktu lalu.
Meski beberapa artefak sudah ada di Museum Buleleng, seperti stupika dan gerabah dari situs Kalibukbuk, serta artefak keramik dari situs Umeanyar.
“Permohonan disetujui untuk koleksi yang belum ada di museum, dan untuk koleksi yang perawatannya tidak memerlukan treatment sulit. Karena keterbatasan sarpras dan SDM di Museum Buleleng,” ujarnya dikonfirmasi pada Sabtu (15/6) sore.
Memang untuk artefak yang berbahan kayu, memerlukan perlakuan khusus. Karena harus menyiapkan prasarana yang kedap udara, kering, serta tidak terkena cahaya secara langsung.
Ditambah lagi SDM museum yang berkeahlian di bidang tersebut.
Kabid Widarma mengatakan, jika Buleleng belum siap dengan syarat tersebut maka artefak belum bisa diserahkan ke museum.
Untuk memastikan hal itu, akan ada asesmen dari Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra BRIN Jakarta.
Sebenarnya, lanjut Widarma, Tim Migrasi Artefak BRIN sedang berada di Bali sampai tanggal 20 Juni nanti.
Pihaknya mengkhawatirkan artefak-artefak tersebut malah dikemas dan dibawa ke Kantor BRIN di Jakarta.
Hal inilah yang membuat Disbud Buleleng memohon agar keenam artefak tersebut dapat dibawa pulang dan diletakkan di Museum Buleleng.
Selain mengirimkan surat permohonan, Widarma bersama staf juga mendatangi Kantor ex Balar.
Tujuannya agar artefak yang memang berasal dari Bali utara, serta perawatannya tidak terlalu sulit, agar jangan dulu dikemas dan dikirim ke Jakarta.
Tetapi menunggu asesmen dari BRIN agar dapat disetujui menjadi koleksi Museum Buleleng.
“Semua koleksi rencananya akan dibawa ke Jakarta. Sehingga kami mohon, yang sesuai kriteria asesmen diserahkan ke kami. Karena kalau sudah terlanjur di bawa ke Jakarta, khawatir proses memintanya jadi lebih rumit,” pungkasnya. ***
Editor : Donny Tabelak