SINGARAJA, radarbuleleng.id- Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 6 Singaraja patut diacungi jempol.
Sebab mereka menggunakan konsep pemilahan sampah bernafas Bali, yakni teba dalam mengelola sampah yang ada di lingkungan sekolah.
Kepala SMPN 6 Singaraja, Nyoman Sudiana menjelaskan bahwa upaya pengelolaan sampah berbasis teba modern, dilakukan mengingat lingkungan sekolah yang cukup luas dan panas.
Pihak sekolah lalu mulai menanam banyak tanaman. Namun masalah baru muncul, yaitu bermunculan sampah daun dan ranting pohon.
Sudiana bersama guru-guru pun berinisiatif membangun dua teba modern di lingkungan sekolah. Yang salah satunya berada di pojok lapangan upacara.
Diketahui, teba modern yang dibuat layaknya sumur sedalam 2 meter. Hanya saja dibuat selayaknya meja, yang di atasnya berisikan lubang sebagai tempat membuang sampah organik.
Sehingga, selain berfungsi sebagai tempat komposting. Teba modern itu berfungsi juga sebagai tempat nongkrong bagi siswa-siswi SMPN 6 Singaraja, di kala waktu istirahat.
Pembuatan teba modern juga dilandasi dari mayoritas siswa di SMPN 6 Singaraja yang beragama Hindu.
Dalam kalender Bali, hampir dalam satu bulan ada saja upacara keagamaan yang dilangsungkan di sekolah.
Sampah sisa sarana upacara pun menjadi perhatian juga, lantaran berbahan organik.
”Kami adopsi filosofi kearifan lokal. Teba itu kan sudah ada sejak dulu. Jadi kami modifikasi di sekolah, sehingga menampung sampah-sampah organik di sini,” ujarnya pada Senin (23/9) siang.
Sudiana melanjutkan bahwa kompos hasil dari teba modern itu, digunakan juga untuk keperluan pemupukan tanaman di lingkungan SMPN 6 Singaraja.
Ini ibarat simbiosis mutualisme alias saling menguntungkan.
Adanya upaya ini, merupakan bentuk edukasi bagi siswa di sekolah, terkait kepedulian lingkungan.
Bukan untuk meraup keuntungan, dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di sekolah. Apalagi, konsep pengelolaan ini sejalan dengan Tri Hita Karana.
Upaya pengelolaan sampah di SMPN 6 Singaraja ini pun mendapat apresiasi. Salah satunya berhasil menjadi juara 1 dalam Tri Hita Karana Award.
Selain dengan menjadi Sekolah Adiwiyata Nasional yang ditetapkan pada tahun 2022.
”Ke depannya, kami akan terus berinovasi dalam hal pengelolaan sampah,” tutupnya.
Selain itu, siswa di SMPN 6 Singaraja juga diajak untuk memilah plastik sehingga dapat menjadi barang bernilai dan bermanfaat kembali. Seperti menjadi pot bunga hingga lukisan wajah plastik.
Ini juga disalurkan melalui ekstrakurikuler penanganan sampah. Diketahui bila dalam satu minggu saja, terkumpul enam karung besar sampah plastik.
Hal ini memang cukup tinggi, sehingga inovasi pengolahan sampah pun sangat penting dilakukan.
Siswa yang giat mengumpulkan sampah, akan mendapatkan penghargaan dari sekolah.
Penghargaan tersebut berupa tabungan uang, yang ditukarkan dengan sampah plastik yang mereka kumpulkan.
Ini sebagai salah satu upaya, agar siswa dapat peduli dengan lingkungan sekitar, yang dimulai dari diri sendiri, di rumah, hingga sekolah.***
Editor : Donny Tabelak