SINGARAJA-Harapan truna-truni di wewidangan Desa Adat Buleleng untuk menyemarakkan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1946 dengan ogoh-ogoh pupus.
Desa Adat Buleleng memutuskan tak melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan ogoh-ogoh.
Keputusan ini diambil dalam rapat Koordinasi Ogoh-ogoh yang digelar di Wantilan Sekretariat Desa Adat Buleleng pada Jumat (19/1) pagi bersama yowana, kelian banjar adat, koordinator pecalang, hingga babinsa dan bhabinkamtibmas.
Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna mengatakan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan dan masukan yang diterimanya dari berbagai pihak.
Yakni yowana, kelian banjar adat, kerta desa, koordinator pecalang, dan bhabinkamtibmas serta babinsa.
Juga berdasarkan awig-awig Desa Adat Buleleng No 1 Tahun 2013 revisi ke-4 yang mengatur tentang kewenangan untuk mengambil keputusan berdasarkan paruman.
Sebenarnya, diungkapkan Sutrisna, ada tiga opsi terkait ogoh-ogoh di Desa Adat Buleleng.
Opsi pertama, wilayah dajan sema tidak melaksanakan ogoh-ogoh sedangkan delod sema melaksanakan. Opsi kedua, tidak ada pelaksanaan ogoh-ogoh.
Opsi ketiga, ada pelaksanaan ogoh-ogoh tapi menjadi tanggung jawab dan pengamanan masing-masing banjar adat.
“Kami sepakat dengan alasan kebersamaan, kesetaraan, serta pertimbangan tahun politik dan ekonomi, Desa Adat Buleleng sepakat tidak melaksanakan ogoh-ogoh di tahun 2024,” jelas Kelian Desa Adat Buleleng usai rapat.
Sutrisna mengungkapkan, dari 14 banjar adat di Desa Adat Buleleng, 11 desa adat mengharapkan tidak adanya pelaksanaan ogoh-ogoh di Nyepi 2024. Satu banjar adat memilih tidak bersuara.
Sedangkan dua banjar adat yakni Kampung Anyar dan Kampung Baru yang sudah memulai pembuatan ogoh-ogoh, pada akhirnya ikut keputusan yang disepakati bersama.
"Akan tetapi, di tahun 2025 nanti, kami sepakat untuk melombakan ogoh-ogoh di 14 banjar adat ini. Kami juga akan support dana stimulan sebanyak Rp 5 juta ke tiap banjar adat," lanjut Kelian Desa Adat Buleleng.
Ditundanya pelaksanaan ogoh-ogoh di Desa Adat Buleleng memantik beragam reaksi.
Dari pantauan di media sosial, banyak kalangan muda yang menyayangkan keputusan tersebut.
Ngurah Gede Arya Kusuma, Wakil Yowana Satya Swadharma Banjar Peguyangan mengaku akan segera menggelar rapat bersama dengan anggota-anggotanya terkait dengan keputusan dari Desa Adat Buleleng.
Baik keputusan tidak dilaksanakannya ogoh-ogoh, juga terkait dengan rencana lomba ogoh-ogoh dan dana stimulan di Nyepi 2025 mendatang.
Ia mengaku, di lingkungannya belum berani untuk memulai pembuatan ogoh-ogoh karena belum ada keputusan pasti dari Desa Adat Buleleng.
Meskipun dari Dinas Kebudayaan Buleleng sudah mengeluarkan keputusan dan mengizinkan pembuatan ogoh-ogoh di Kabupaten Buleleng.
"Kecewa pasti ada, tapi kita harus hormati keputusan dari desa adat. Jadi tetap harus diikuti kesepakatannya," jelasnya usai rapat.
Sekedar informasi, Nyepi tahun ini akan berlangsung pada Senin (11/3) sampai Selasa (12/3). Sedangkan pengarakan ogoh-ogoh atau pengerupukan biasanya akan berlangsung sehari sebelumnya yakni pada Minggu (10/3). ***
Editor : Donny Tabelak