SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Pasukan Pemadam Kebakaran Buleleng dijanjikan mendapat armada baru untuk menjalankan tugas.
Selama ini mereka harus ikhlas menggunakan armada keluaran lama. Tak jarang kendaraan itu mengalami kerusakan bahkan mogok hingga bertugas.
Konon armada baru itu akan dibeli pada tahun ini. Sehingga dapat segera digunakan.
Pengadaan armada baru itu muncul dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Buleleng.
Dalam dokumen tersebut muncul anggaran sebesar Rp 1,9 miliar untuk belanja modal kendaraan operasional.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Buleleng, Putu Ariadi Pribadi mengakui pihaknya akan membeli kendaraan anyar pada tahun ini.
Menurutnya pengadaan armada baru sudah sangat mendesak. Karena Dinas Damkar tidak bisa bertugas dengan optimal menggunakan armada yang ada.
Sebenarya Dinas Damkar Buleleng memiliki 8 unit armada. Armada tertua merupakan Toyota Morita lansiran 1968, dan armada teranyar adalah Isuzu Elf keluaran tahun 2008.
Namun dari 8 unit armada tersebut, hanya 5 unit yang bisa digunakan dengan rutin.
Armada Morita sudah dipensiunkan sejak beberapa tahun lalu. Sementara dua unit armada Tohatsu Mercy harus rutin keluar masuk bengkel karena bermasalah pada mesin.
Khusus lima unit kendaraan lain, bukan berarti dalam kondisi prima. Ada saja masalah yang terkadang muncul.
“Ada tangki bocor, mesinnya masalah. Mau cari bengkel untuk perbaikan total juga sulit. Jadi hitungannya rata-rata di tiap pos itu hanya ada satu unit yang benar-benar bisa beroperasi,” kata Ariadi, saat dikonfirmasi Senin (29/1/2024).
Rencananya kendaraan yang diincar merupakan armada double cabin dengan daya tampung 3.000 liter.
Armada tersebut dinilai bisa memenuhi keperluan dalam tugas pemadaman. Karena bisa bergerak lebih lincah di wilayah geografis tinggi.
“Itu bisa masuk ke gang-gang kecil juga, bisa lebih efektif,” kata Ariadi.
Lebih lanjut Ariadi mengatakan, bila melihat kondisi geografis Buleleng, setidaknya diperlukan sembilan unit armada pemadam kebakaran.
Setiap kecamatan paling tidak memerlukan satu unit armada untuk merespons penanganan awal. Selanjutnya armada dari kecamatan lain dapat memberikan dukungan.
Hanya saja dengan kondisi keuangan daerah, dia berusaha memenuhinya pada tahun-tahun mendatang.
“Paling tidak perlu ada satu unit yang stand by di Kecamatan Tejakula dan satu unit di Kecamatan Gerokgak. Mudah-mudahan kedepan bisa dipenuhi,” demikian Ariadi. (*)
Editor : Eka Prasetya