SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Jatah pupuk bersubsidi bagi petani di Kabupaten Buleleng, dipangkas pada tahun ini.
Praktis kondisi itu membuat para petani khawatir. Karena mereka masih sangat bergantung pada pupuk bersubsidi.
Merosotnya jatah pupuk bersubsidi bagi petani, dikhawatirkan meningkat ongkos produksi naik. Sehingga harga komoditas pangan seperti beras dikhawatirkan ikut naik.
Alokasi pupuk bersubsidi bagi petani Buleleng pada tahun 2023 lalu sebenarnya cukup besar. Yakni 8.659 ton untuk pupuk urea, 5.999 ton untuk pupuk NPK, dan 151 ton untuk pupuk NPK formula khusus.
Tahun ini jatah pupuk merosot drastis. Petani di Kabupaten Buleleng hanya mendapat kuota urea sebanyak 4.312 ton, NPK sebanyak 4.010 ton, dan 18 ton pupuk NPK formula khusus.
Jatah pupuk subsidi pada tahun ini merosot hingga 43,67 persen bila dibandingkan dengan alokasi pupuk pada tahun 2023 lalu.
Alokasi pupuk subsidi sebenarnya sangat membantu petani. Urea bersubsidi bisa ditebus dengan harga Rp 2.250 per kilogram atau Rp 112.500 per sak. Sedangkan pupuk urea non subsidi dijual seharga Rp 400 ribu per sak atau Rp 8.000 per kilogram.
Khusus harga pupuk NPK subsidi hanya Rp 2.300 per kilogram atau Rp 115.000 per sak. Sementara NPK formula khusus seharga Rp 3.300 per kilogram atau Rp 165 ribu per sak.
Beda jauh dengan harga pupuk NPK non subsidi yang dijual seharga Rp 600 ribu per sak atau Rp 12 ribu per kilogram. Bahkan ada pula yang dijual seharga Rp 20 ribu per kilogram alias Rp 1 juta per sak.
Kabid Sarana Prasarana pada Dinas Pertanian Buleleng, Made Sila Darma mengungkapkan, alokasi pupuk bersubsidi itu sudah berdasarkan keputusan pemerintah.
Menurutnya alokasi pupuk bersubsidi tahun ini sudah diatur lewat SK Gubernur Bali Nomor 1044/03-F/HK/2023 tentang Alokasi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian di Provinsi Bali Tahun Anggaran 2024.
Sila mengatakan, usulan pupuk bersubsidi yang diusulkan para petani sebenarnya jauh lebih besar. Yakni sebanyak 8.171 ton urea, 13.656 ton NPK, dan 130 ton NPK formula khusus.
“Tapi yang dialokasikan ke kabupaten lebih rendah dibandingkan usulan. Jadi kami juga tidak bisa bicara banyak. Ini terjadi di seluruh Indonesia, bukan hanya di Buleleng saja,” kata Sila Darma saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (5/2/2024).
Sila mengungkapkan, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada kelompok tani penerima pupuk subsidi di seluruh kecamatan.
Dari sosialisasi itu, rata-rata petani juga sudah menerima bahwa kondisi alokasi pupuk subsidi akan merosot tahun ini.
“Kabarnya kan akan ada tambahan alokasi subsidi bulan Maret tahun ini. Ya mudah-mudahan saja terealisasi,” imbuhnya.
Lebih lanjut Sila Darma mengatakan, pihaknya kini mendorong agar petani menggunakan pupuk organik untuk menggenjot produksi.
Pupuk organik dapat digunakan dengan campuran pupuk subsidi. Sehingga penggunaan pupuk subsidi juga bisa ditekan.
“Memang kami dorong petani pakai organik. Tapi kan tidak bisa musim tanam pertama langsung gunakan full pupuk organik. Ada proses transisi. Idealnya harus dikawinkan antara organik dan kimia, biar tetap optimal,” demikian Sila Darma. (*)