Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dampak Cuaca Ekstrem di Buleleng: 104 Titik Kejadian, Kerugian Tembus Miliaran

Eka Prasetya • Minggu, 17 Maret 2024 | 23:05 WIB

 

TIMBUN BALITA: Tembok rumah di Banjar Dinas Babakan, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, jebol menimbun seorang balita. Syukurnya balita itu berhasil selamat.
TIMBUN BALITA: Tembok rumah di Banjar Dinas Babakan, Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, jebol menimbun seorang balita. Syukurnya balita itu berhasil selamat.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Fase cuaca ekstrem di Buleleng yang berlangsung sejak Sabtu (9/3/2024) lalu, diprediksi sudah berakhir.

Pada Minggu (17/3/2024), cuaca di Buleleng relatif bersahabat. Matahari sudah mulai bersinar, kendati masih diselimuti awan. Tidak ada lagi angin kencang yang berhembus.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng pun menuntaskan penanganan darurat di lokasi-lokasi bencana yang terdampak cuaca ekstrem.

Berdasarkan data BPBD Buleleng, selama cuaca ekstrem yang berlangsung pada Sabtu (9/3/2024) pekan lalu hingga Sabtu (16/3/2024) kemarin, tercatat ada 104 titik peristiwa bencana.

Bencana yang dominan adalah pohon tumbang yang terjadi di 47 titik.

Kemudian ada bencana banjir di 14 titik, serta longsor di 14 titik.

Selain bencana-bencana itu juga tercatat terjadi puting beliung, gelombang pasang, senderan jebol, atap rumah jebol, hingga rumah yang roboh karena bencana.

Bencana itu mengakibatkan 13 unit rumah rusak ringan, 33 unit rusak sedang, serta 9 unit rusak berat. Total kerugian yang tercatat mencapai Rp 1,33 miliar.

Selain itu ada seorang warga Buleleng yang meninggal dunia akibat terdampak longsor. Dia adalah Kadek Angkasa, warga Desa Menyali, yang tersapu longsor di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada.

Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Putu Ariadi Pribadi mengatakan, pihaknya sudah melakukan asesmen terhadap kerusakan-kerusakan akibat dampak bencana.

Ariadi mengatakan, fasilitas-fasilitas publik yang menjadi aset pemerintah akan diperbaiki oleh pemerintah daerah.

Contohnya sekolah atau puskesmas yang terdampak bencana, perbaikannya menjadi instansi masing-masing.

Sementara aset-aset milik masyarakat akan diusulkan mendapat bantuan sosial (bansos) bencana.

“Nilainya disesuaikan dengan tingkat kerusakan. Sifatnya dana stimulan. Tim sudah bergerak melakukan identifikasi dan pengecekan,” kata Ariadi saat dihubungi pada Minggu (17/3/2024).

Ariadi mengatakan, bansos bencana diprioritaskan bagi rumah-rumah warga yang terdampak.

Sementara bangunan lainnya, sebut saja dapur yang terpisah dari bangunan rumah, atau tempat ibadah berupa sanggah kemulan, akan diusulkan kepada BPBD Bali.

“Nanti kami pilah. Mana yang bisa dibantu kabupaten, kami ajukan bansos bencana di APBD Buleleng. Yang tidak bisa, kami usulkan ke BPBD Bali,” jelas Ariadi.

Saat ini BPBD Buleleng masih mendata dan melakukan verifikasi terhadap dampak bencana yang terjadi selama sepekan terakhir.

Selanjutnya BPBD Buleleng akan mengajukan pencairan bansos bencana kepada Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Buleleng. (*)

Editor : Eka Prasetya
#longsor #pohon tumbang #puting beliung #banjir #buleleng #cuaca ekstrem #gelombang pasang