SINGARAJA-Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali mencatat sebanyak tujuh titik jalan nasional yang melewati Kabupaten Buleleng, menjadi langganan dan sering terdampak banjir.
Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Provinsi Bali, Izzudin Ismawanto menyebutkan bila tujuh titik tersebut sudah mereka identifikasi, sebagai titik jalan nasional yang terdampak banjir.
Tujuh titik jalan nasional itu yakni KM 120 dan 125 di Desa Penyabangan; KM 132, 134, 136, dan 142 di Desa Pemuteran. Dua desa itu berada di wilayah Kecamatan Gerokgak.
Terbaru, Izzudin mengungkapkan KM 82 di kawasan Lovina juga menjadi titik baru yang terdampak banjir.
“Kami kerja sesuai dengan jalan nasional yang melintas di Buleleng. Kami sudah identifikasi titik banjir di KM 120, 125, 132, 134, 136, dan 142. Terbaru di KM 82 juga ada. Kami sudah desain penanganannya,” ungkap Izzudin ditemui di Kantor Bupati Buleleng pada Selasa (19/3).
Ia menjelaskan bila drainase yang berada di sisi kiri dan kanan jalan nasional, sebenarnya hanya berfungsi mengatasi air yang menggenang di jalan. Bukan untuk mengakomodir air yang datang dari bukit, maupun banjir.
Ditambah lagi, banyak jalan-jalan di luar jalan nasional yang seketika berubah menjadi sungai saat hujan turun. Hal ini memperparah banjir di titik-titik tersebut, karena membuat air hujan menggenang.
Sedangkan drainase tidak mampu menahan debit air yang datang.
Selain dengan banjir yang membawa material berujung sedimentasi dan sampah, serta elevasi tanah atau jalan yang lebih rendah, yang mengakibatkan air hujan mudah tergenang.
“Kalau banjir, yang terdampak itu jalan. Drainase itu fungsinya untuk cover kawasan jalan, sehingga air di jalan langsung masuk ke saluran air itu. Fungsinya memang untuk air dari jalan, tidak mengakomodir air dari bukit,” jelasnya.
Izzudin melanjutkan, bila pelebaran drainase dikatakan tidak representatif, mengingat fungsi drainase di pinggir jalan hanya diperuntukkan bagi air yang menggenang di jalan.
Untuk itu, pihak BBPJN Jawa Timur-Bali berencana melakukan normalisasi drainase di jalan nasional, khususnya yang terdampak. Ini sebagai langkah jangka pendek, mencegah kembalinya jalan nasional terdampak banjir.
“Untuk jangka pendek, kami lakukan normalisasi drainase terlebih dahulu serta perbaikan jalan nasional yang rusak terdampak banjir. Untuk langkah selanjutnya, akan dibahas bulan April nanti,” katanya.
Pihaknya juga meminta Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida agar membuat pengendalian air dari hulu menuju ke hilir. Sehingga saat hujan, debit air bisa diatur saat melewati perkotaan.
“Kalau kami lakukan perbaikan, tapi dari BWS tidak ada tindak lanjut untuk normalisasi atau pengendalian air, tidak akan menyelesaikan masalah. Jadi harus kerja bersama-sama,” pungkasnya. ***
Editor : Donny Tabelak