Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Ada Sejak 2016, Larang Cosplayer Berbau Politik dan Perang

Francelino Junior • Jumat, 29 Maret 2024 | 04:10 WIB
Penampilan cosplayer dalam pesta rakyat serangkaian HUT ke-420 Kota Singaraja.
Penampilan cosplayer dalam pesta rakyat serangkaian HUT ke-420 Kota Singaraja.

SINGARAJA-Komunitas cosplay diketahui sudah berdiri sejak tahun 2016 di Kabupaten Buleleng.

Awalnya, komunitas ini hanya terdiri dari beberapa orang saja karena hobi.

Ketua Komunitas Cosplay Buleleng, Abi Baruna Dewi menjelaskan pada awal terbentuk di tahun 2016 lalu, komunitas ini dianggap sebagai perkumpulan orang-orang yang aneh. Karena menirukan karakter fiksi.

Tetapi pada tahun 2022, mulai banyak yang ikut bergabung dalam komunitas ini, lantaran kesamaan hobi dan kesukaan akan karakter-karakter Jepang.

Terlebih para pelajar yang memang membutuhkan tempat berkumpul dan menyalurkan bakatnya.

“Sampai saat ini sudah ada 100 orang anggota. Mereka bergabung karena hobi dan kesamaan minat dan kesukaan yang sama. Dulu dianggap hobi aneh, sedikit yang bergabung, tapi sekarang banyak yang ikut bergabung,” kata Abi pada Kamis (28/3).

Abi melanjutkan bahwa komunitas ini awalnya sebagai tempat bernaung dan bersenang-senang dalam tiap event cosplay yang ada di Bali. 

Tetapi lambat laun, dengan mengikuti event yang banyak membuat komunitas ini pun dikenal para anak muda Buleleng penyuka budaya Jepang.

Apalagi, bergabung ke dalam komunitas cosplay tidak ada batasan usia, hanya saja kata Abi, sekuat-kuatnya memakai kostum karakter.

“Komunitas ini awalnya hanya untuk menaungi saja. Ternyata dengan adanya event, membuat banyak yang ikut bergabung untuk untuk bersenang-senang bersama,” lanjutnya.

Disinggung mengenai aturan meniru karakter dalam cosplay, Abi menegaskan bahwa dalam cosplay tidak boleh meniru karakter yang berhubungan dengan politik maupun perang.

Bahkan cosplay aparatur pemerintahan juga tidak boleh.

Abi menjelaskan, ini untuk mencegah adanya penyalahgunaan dalam penampilan nantinya. Kecuali cosplay pahlawan nasional.

Cosplay itu kan meniru, selagi tidak merusak pakem karakter, tidak masalah. Cosplay ajang menunjukkan kreativitas, selagi tidak berhubungan dengan politik dan perang serta pemerintahan,” pungkasnya.

Ia pun berharap, tahun 2025 di Kabupaten Buleleng ada event cosplay bertaraf nasional. Sehingga banyak anak muda yang mau keluar dan mengkreasikan diri. ***

Editor : Donny Tabelak
#perang #politik #komunitas #cosplay