Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Prajuru Adat dan Pragina Kerauhan saat Pemkab Buleleng Ngaturang Guru Piduka

Eka Prasetya • Senin, 1 April 2024 | 01:47 WIB

 

KERAUHAN: Seorang pragina mengalami kerauhan saat Dinas Kebudayaan Buleleng melaksanakan upacara guru piduka di Pura Pengaruman Banjar Paketan.
KERAUHAN: Seorang pragina mengalami kerauhan saat Dinas Kebudayaan Buleleng melaksanakan upacara guru piduka di Pura Pengaruman Banjar Paketan.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Prosesi ngaturang guru piduka yang dilakukan Pemkab Buleleng diwarnai peristiwa mistis.

Prosesi guru piduka itu dilakukan Pemkab Buleleng melalui Dinas Kebudayaan Buleleng. Guru piduka dilakukan gara-gara para seniman gong legendaris ngambul saat penutupan HUT Kota Singaraja ke-420.

Peristiwa mistis itu terjadi saat Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng ngaturang guru piduka di Pura Pengaruman, Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng.

Seperti diketahui, Sekaa Gong Kebyar Legendaris Eka Wakya Banjar Paketan dan Sekaa Gong Kebyar Legendaris Jaya Kusuma Desa Jagaraga semestinya tampil pada penutupan HUT Kota Singaraja ke-420 di Lapangan Bhuana Patra pada Sabtu (30/3/2024) malam.

Sedianya kedua sekaa gong itu akan tampil mebarung dengan membawakan tabuh garapan dan tari-tarian.

Sayangnya saat mereka hendak pentas, penampilan mereka justru disela oleh band. Hal itu memicu kekecewaan para seniman. Mereka kompak turun dari panggung.

Para seniman itu juga menurunkan perangkat gamelan. Mereka langsung angkat kaki dari lokasi kejadian.

Dinas Kebudayaan Buleleng pun melakukan upacara guru piduka pada Minggu (31/3/2024). Upacara itu dilakukan karena kedua sekaa tampil membawakan gong duwe alias gong sakral.

Baca Juga: Pemkab Buleleng Ngaturang Guru Piduka, Buntut Sekaa Gong Kebyar Legendaris Batal Tampil

Saat prosesi persembahyangan di Pura Pengaruman pada Minggu pagi, Kelian Banjar Adat Paketan, Ketut Purnawan tiba-tiba gemetar.

Dia kemudian menangis sesenggukan. Sementara tangannya bergerak seperti orang sedang menari.

Dia kemudian mengucapkan beberapa kalimat. Sayangnya tidak terdengar jelas karena dilakukan dalam posisi. Salah satu kalimat yang terdengar adalah “Sampunang mewali pak nggih” yang berarti “jangan sampai terulang lagi”.

Selain itu seorang pragina yang ikut dalam Sekaa Gong Kebyar Legendaris juga ikut kerauhan. Dia tiba-tiba berdiri dan menari.

Diduga kerauhan itu terjadi karena Bhatara yang berstana di Pura Pengaruman juga kecewa dengan peristiwa yang terjadi pada Rabu (30/3/2024) malam.

Kelian Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya, Gede Arya Septiawan mengatakan sebelum pentas pada Sabtu malam pihaknya harus melakukan serangkaian upacara. 

Salah satunya dilakukan di Pura Pengaruman. Sebab gong duwe milik Sekaa Gong Eka Wakya di-stanakan di Pura Pengaruman.

“Kami dari pagi mulai prosesi upacara, terpatahkan dengan kejadian kemarin,” katanya.

Menurutnya upacara guru piduka yang dilakukan Dinas Kebudayaan Buleleng sudah menuntaskan semua prosesi yang dilakukan.

“Astungkara sekarang ini sudah selesai semua dan harapan kami biar tidak terulang lagi,” ujarnya. (*)

Editor : Eka Prasetya
#guru piduka #pemkab buleleng #hut kota singaraja #gong kebyar #gong legendaris