Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Rembuk Seniman: Muncul Ide Bentuk Paguyuban Seniman Buleleng

Eka Prasetya • Selasa, 2 April 2024 | 03:55 WIB

 

REMBUK SENIMAN: Suasana rembuk seniman di Restoran Pesor, Kelurahan Beratan, Buleleng menyikapi insiden seniman ngambul saat penutupan HUT Kota Singaraja ke-420.
REMBUK SENIMAN: Suasana rembuk seniman di Restoran Pesor, Kelurahan Beratan, Buleleng menyikapi insiden seniman ngambul saat penutupan HUT Kota Singaraja ke-420.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Rembuk seniman yang berlangsung secara spontan pada Senin (1/4/2024) malam melahirkan ide-ide baru.

Dalam rembuk itu salah satu hal yang dibicarakan adalah insiden saat seniman gong kebyar legendaris ngambul.

Seniman gong legendaris dari dua sekaa yakni Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya Banjar Paketan dan Sekaa Gong Kebyar Jaya Kusuma Desa Jagaraga memilih batal tampil.

Mereka turun panggung, lalu menurunkan perangkat gamelan dari panggung. Karena kecewa dengan perlakuan kepada para seniman, khususnya seniman senior.

Selain membicarakan hal tersebut, dalam rembuk itu juga mendadak muncul ide untuk membentuk Paguyuban Seniman Buleleng.

Selama ini seniman Buleleng memang sulit guyub dan berkumpul bersama. Karena setiap seniman memiliki idealisme masing-masing.

Pembina Tabuh di Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya, Made Pasca Wirsutha mengatakan, keberadaan paguyuban akan memperkuat posisi tawar seniman. Tidak ada lagi perlakuan semena-mena terhadap seniman.

“Mungkin dengan jalan kumpul saat ini, kita bisa membentuk paguyuban. Seniman modern dan tradisi bisa bersatu di sini,” kata pria yang akrab disapa Dek Pas itu.

Ide itu juga disambut baik Pimpinan Sanggar Padepokan Seni Dwi Mekar, Gede Pande Satria Kusumayuda.

Menurutnya di tingkat provinsi sebenarnya telah terbentuk paguyuban seni Bali yang diprakarsai oleh seniman dari berbagai macam latar belakang tradisi.

“Saya menyadari kita semua susah kumpul. Mari sekarang kita kumpul, menyatukan opini dengan tidak menghilangkan idealisme,” ujar pria yang akrab disapa Olit itu.

Sejalan dengan pemikian Dek Pas, Olit meyakini paguyuban akan meningkatkan posisi tawar para seniman di hadapan publik. Terutama para pengambil kebijakan.

“Siapapun nanti yang terpilih agar tetap bisa menjaga mandat, harkat, dan martabat seniman Buleleng,” ujarnya.

Sementara Pimpinan Sanggar Seni Santhi Budaya, I Gusti Ngurah Eka Prasetya menilai rembuk seniman Buleleng menjadi momentum awal agar tidak terjadi lagi perlakuan kurang etis terhadap seniman.

Ia juga mendorong agar kelak seniman memiliki standar prosedur dalam setiap pementasan. Standar itu mencakup hal-hal yang harus tersedia di panggung.

“Seperti band, itu mereka punya SOP. Kita juga di seni tradisi harus punya SOP. Kalau pentas wayang misalnya, apa yang harus di panggung. Begitu juga kalau gong kebyar, apa yang harus ada, berapa ukuran panggungnya. Itu akan meningkatkan daya tawar kita,” ujarnya.

Menanggapi ide tersebut, salah seorang sesepuh seniman tari, Anak Agung Gede Ngurah juga menyambut baik ide tersebut.

Hanya saja ia mengingatkan agar pembentukan paguyuban itu bukan sekadar seremoni belaka. Namun harus benar-benar berjalan.

“Membangun itu gampang, memelihara itu sulit. Kalau memang mau bentuk, ayo kita pastikan jalan. Mari kita jalan bersama dan bergiat bersama,” harapnya. (*)

Editor : Eka Prasetya
#Rembuk Seniman #legendaris #seniman #hut kota singaraja #gong kebyar #buleleng