SINGARAJA-Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai memakan korban. Seorang anak berusia lima tahun bernama Qiranihi Kaisyiyah Maulana meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Buleleng.
Ia mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS) yang berujung meninggal dunia.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Buleleng, Sucipto membenarkan adanya korban DBD yang meninggal di RSUD Buleleng pada Minggu (14/4) malam.
Beberapa hari sejak anak malang itu mudik ke Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng.
Dari informasi yang dihimpun, awalnya bocah asal Desa Kali Unda, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung itu awalnya mengeluhkan demam pada Selasa (9/4) malam.
Ia kemudian dibawa ke RSUD Klungkung lalu dirujuk ke RSUP Prof Ngoerah Denpasar, kemudian diperbolehkan pulang.
Esok harinya pada Rabu (10/4), korban bersama keluarganya melakukan mudik lebaran ke Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng.
Di sana, atas saran keluarga, bocah lima tahun itu diajak berobat pijat ke Gilimanuk. Mengingat demamnya tidak juga turun.
Pada Kamis (11/4) kondisi panas korban sempat naik turun. Lalu Minggu (14/4), korban dibawa keluarganya ke RSUD Tangguwisia karena keadaan korban yang semakin memburuk.
Di sana, korban langsung dirujuk ke RSUD Buleleng lantaran kondisi korban yang makin lemas.
“Sekitar pukul 20.54 Wita, korban dinyatakan pasien meninggal dunia dengan penyebab gagal nafas akibat hipoglikemia. Diagnosa akhir yang ditetapkan tim medis yakni DSS, pneumonia, dan gagal nafas akut,” jelas Sucipto dikonfirmasi pada Selasa (16/4) siang.
Sementara berdasarkan data dari Dinkes Buleleng, tercatat ada 17 kasus baru pada Senin (15/4).
Yang tersebar di wilayah Kecamatan Buleleng dengan lima kasus, Kecamatan Sukasada satu kasus, Kecamatan Seririt dengan dua kasus, dan Kecamatan Gerokgak dengan sembilan kasus.
Dari data tersebut, nyamuk Aedes Aegypti menyerang 12 anak dengan rentang umur 1-18 tahun.
Sementara jumlah kumulatif dari bulan Januari sampai pertengahan April, sudah ada 515 kasus DBD di Buleleng. Juga dari jumlah itu, ada 71 kasus DBD positif.
“Penyakit DBD ini basisnya penyakit lingkungan. Jadi sangat penting bagi masyarakat terutama melakukan pemberantasan sarang nyamuk,” pesannya. ***
Editor : Donny Tabelak