SINGARAJA-Inovasi karya untuk menggaet minat generasi muda, ditunjukkan I Nyoman Suta Kadik Purtama.
Ia menggabungkan seni prasi yang merupakan seni tradisional dengan unsur-unsur modern dalam bentuk komik.
Karya prasi milik mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha ini ditampilkan dalam Pameran Tugas Akhir Mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Rupa bertajuk Upload ke Dunia Nyata yang mulai dipamerkan pada Senin (22/4) di Galeri Paduraksha Undiksha.
Mahasiswa semester 8 ini mengambil tema Sapuh Leger, yang ia angkat dan tuangkan ke dalam seni prasi berbentuk komik modern.
Kadik mengimplementasikan karyanya ini ke dalam tiga buah buku, sehingga tampak seperti komik berseri.
Dengan warna sampul hitam gelap serta judul cerita yang dibuat dengan pin kuningan dan sekilas gambar yang ia tempelkan pada bagian sampul, membuat karyanya cukup menarik perhatian.
Ketika buku komik itu dibuka, gambar-gambar yang muncul memang sangat mirip dengan komik. Hal ini tentu sangat berbeda dengan prasi pada umumnya.
Kadik mengaku pengambilan cerita Sapuh Leger karena lakon tersebut menunjukkan bukti kreatifnya para leluhur masyarakat Hindu yang mampu menciptakan sebuah cerita yang memiliki nilai luhur yang monumental.
Sapuh Leger menceritakan tentang Dewa Siwa yang berpura-pura menderita sakit keras dan meminta kepada Dewi Uma untuk mencarikan susu lembu putih di alam fana sebagai obat.
Dewi Uma lalu mendapatkan lembu tersebut, namun untuk mendapatkan susunya penggembala memintanya untuk mengorbankan kehormatannya.
Dewa Siwa pun marah dan mengutuk Dewi Uma menjadi Dewi Durga yang berwujud raksasa penghuni setra gandamayu.
Akibat pertemuan ilegal antara penggembala dan Dewi Uma, lahir seorang anak bernama Batara Kala. Dan ternyata, penggembala itu adalah Dewa Siwa yang menyamar dan merayu Dewi Uma.
Cerita ini pun melatarbelakangi ritual pangruwatan atau pembersihan pada jiwa seseorang yang dianggap kotor.
“Komik yang saya buat ini bercerita tentang ritual pembersihan anak yang lahir pada wuku tumpek wayang. Menurut saya cerita ini paling unik,” ujarnya ditemui pada Selasa (23/4) siang.
Kadik melanjutkan, ia hanya ingin membuat inovasi seni prasi yang merupakan seni tradisional, dengan melibatkan unsur-unsur kekinian.
Apalagi ia juga menyebutkan terinspirasi dari sosok Hiroshi Takahashi, yang merupakan pencipta manga (komik Jepang).
Dengan tekadnya itu, Kadik lalu mencoba membuat komik dengan inti seninya menggunakan prasi.
Ia yang mengaku belum pernah membuat gabungan prasi dengan komik, melakukan karyanya itu mulai bulan November 2023 sampai Januari 2024.
“Saya membuat prasi dengan mengembangkan ke komik modern. Di sini saya hanya ingin mengembangkan karya prasi. Kalau sebelumnya saya belum pernah buat seperti ini, jadi yang pertama kali, setiap hari saya push,” lanjutnya menjawab.
Selama tiga bulan pengerjaan komik prasi Sapuh Leger, pemuda asal Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem ini mengaku sempat kesulitan dalam menambahkan unsur komik dalam prasi.
Karena menurutnya, unsur komik yang terkesan dinamis dan penuh pergerakan, harus “bertabrakan” dengan seni prasi yang terkesan lembut.
Beruntung, narasi cerita sudah ada terlebih dahulu sehingga memudahkan dalam penggambaran.
“Menampakkan unsur visual pada prasi yang jadi kesulitan. Unsur komik seperti adegan gambar yang lebih dinamis bergerak, sementara prasi objeknya lebih lembut,” pungkasnya. ***
Editor : Donny Tabelak