SINGARAJA-Kesedihan meliputi keluarga Ketut Sutama, 23, dan Putu Yasa Sari Dana, 6, kakak beradik yang mengakhiri hidup di Jembatan Tukad Bangkung, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung pada Minggu (26/5) sore.
Untuk diketahui, dua saudara kandung ini merupakan warga Banjar Dinas Rendetin, Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.
Jenazah mereka sudah dikebumikan pada Senin (27/5) sekitar pukul 03.00 Wita.
Dari pantauan radarbuleleng.id, kedukaan dipusatkan di rumah pamannya. Ini karena kedua orang tua korban sudah meninggal, ditambah kakak korban juga sudah menikah.
Praktis kini tinggal ada kakak nomor satu korban, bernama Luh Somotini. Kakaknya ini diinformasikan penyandang disabilitas fisik dan mental.
Untuk mencapai rumah paman korban, melewati sebuah gang dengan jalan beton berjarak kurang lebih 200 meter.
Di rumah yang tak begitu luas, sudah berkumpul warga Desa Bontihing yang duduk di tanah beralas terpal. Juga disambut wajah-wajah sedih para keluarga.
Ni Luh Resmini, kakak ipar korban menceritakan, bahwa pada Jumat (24/5) Sutama mencurahkan isi hati kepada keluarganya.
Ia mengaku lelah dengan kondisinya yang sakit-sakitan. Padahal untuk bercerita dengan keluarga, merupakan hal langka yang dilakukan korban.
Sementara kondisi adik Sutama, Putu Yasa, dalam keadaan buruk akibat kurang gizi.
Disebutkan Yasa yang berusia enam tahun, malah tidak tumbuh seperti anak pada biasanya atau bertubuh kecil.
“Curhat pesuang unek-unek, katanya inguh. Pragat oon bayune, sakit. Melali juga kapah (curhat keluarkan unek-unek, katanya bingung. Selalu lemah badannya, sakit. Berlibur juga jarang). Padahal orangnya jarang sekali bicara,” ujarnya ditemui pada Senin (27/5) siang.
Keesokan harinya, pada Sabtu (25/4), kakak ipar korban masih sempat berbincang dengan Sutama. Saat itu Resmini bertemu korban yang hendak keluar dari rumahnya.
Dari penuturan Resmini, korban lebih banyak berdiam diri di rumah bersama dengan adiknya itu. Meski sudah dibujuk agar tinggal bersama keluarga besarnya, tetapi Sutama menolak.
Ia pun sempat merasa ada gelagat aneh dari kelakukan adik iparnya itu. Mengapa? Sutama yang sebelumnya sangat jarang datang ke rumah keluarganya, mendadak mengunjungi rumah keluarga besarnya satu per satu, bahkan menunjukkan keceriaan.
Selain itu, Sutama yang sebelumnya selalu enggan untuk meminjam uang ataupun berhutang, mendadak berhutang bensin di warung pada Minggu (26/5) sekitar pukul 15.00 Wita.
Resmini meniru ucapan adik iparnya itu, katanya, akan ada yang membayar bensin itu pada sore hari.
“Katanya mau pergi dulu sebentar. Pergi ke Pelaga saja tidak ada yang tahu,” ujar Resmini dengan berlinang air mata.
Sutama sebelumnya bekerja di wilayah Bali selatan, di sebuah bengkel. Ia merupakan tamatan salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Buleleng.
Namun setelah bekerja selama empat bulan, ia memilih kembali ke Desa Bontihing karena sakit.
Selama kembali ke kampung, ia sempat bekerja di salah satu bengkel besar di Buleleng.
Kemudian berhenti karena kondisi yang memburuk. Akhirnya Sutama membuka jasa servis barang elektronik di rumahnya.
Resmini menduga adik iparnya itu putus asa dan depresi dengan keadaannya. Apalagi, kedua orang tuanya sudah lebih dulu tiada.
Ayahnya sudah meninggal lima tahun lalu, sementara ibunya meninggal dua tahun lalu. Hal itu membuat dirinya merasa terbebani, karena kehilangan sosok panutan dalam keluarga.
“Kalau dulu masih ada orang tua, ada yang jaga adiknya, jadi tidak terbebani. Sekarang lihat adiknya, tidak ada orang tua, putus asa mungkin,” lanjutnya.
Meski mengalami kondisi yang kurang fit, tetapi Sutama enggan untuk mendapatkan bantuan.
Kata Resmini, Sutama memilih hidup mandiri. Bahkan tak segan mengatakan tidak ingin menyusahkan keluarganya.
“Kalau servis barang di rumah juga tidak pernah memasang tarif. Dikasih berapa saja mau. Kalau lebih tidak mau. Diambil sesuai kebutuhannya saja,” ungkapnya. ***
Editor : Donny Tabelak