Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Kembalikan Pakem Joged Bumbung dari Kesan Erotis, Disbud Buleleng Lakukan Pembinaan

Francelino Junior • Kamis, 13 Juni 2024 | 16:05 WIB
JOGED JARUH: Seorang pemangku melakukan gerakan jaruh saat ngibing. Identitas penarinya akhirnya terungkap. Ternyata berasal dari Buleleng.
JOGED JARUH: Seorang pemangku melakukan gerakan jaruh saat ngibing. Identitas penarinya akhirnya terungkap. Ternyata berasal dari Buleleng.

SINGARAJA-Banyaknya gelarang joged bumbung yang terkesan jaruh atau berbau negatif, membuat Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Buleleng menggelar pembinaan.

Ini untuk mengembalikan pakem joged bumbung ke arah yang sebenarnya.

Kegiatan bertajuk menjaga warisan adiluhung tari joged bumbung dengan pakem atau aturan yang sebenarnya, berlangsung di Sasana Budaya Singaraja pada Rabu (12/6) pagi.

Kepala Disbud Buleleng, I Nyoman Wisandika mengatakan pembinaan ini menyasar para kelian desa adat yang ada di seluruh Kabupaten Buleleng. Meski tidak seluruhnya yang hadir.

Wisandika mengungkapkan, kegiatan ini sebagai upaya mengembalikan joged bumbung ke arah yang benar dari kesan erotis.

Apalagi beberapa bulan lalu sempat viral di media sosial mengenai joged bumbung jaruh, yang pengibing-nya adalah seorang pemangku.

Apalagi di Pesta Kesenian Bali (PKB) 2024, Buleleng juga menampilkan joged bumbung yang memang benar-benar sesuai dengan pakem.

“Hari ini kita laksanakan pembinaan dengan kelian desa adat. Karena sekaa dan sanggar ada di wewidangan desa adat,” ujar Wisandika ditemui di sela-sela kegiatan.

Menurutnya, masyarakat tidak boleh terlalu menilai buruk setiap sekaa/sanggar joged bumbung yang tampil.

Alasannya, banyak pihak pengundang yang meminta agar joged bumbung diisi gerakan nakal.

Wisandika menambahkan, dalam waktu dekat juga akan menjadwalkan pembinaan terhadap sekaa/sanggar joged bumbung. Supaya pemahaman akan pakem joged, bisa sama satu dengan lainnya.

Harapannya, desa adat juga mampu melakukan pembinaan dan pemantauan di sanggar yang ada di wilayahnya.

“Saya ragu, apakah di medsos itu penarinya orang Buleleng atau Bali. Karena bisa saja itu orang luar yang mempelajarinya,” lanjutnya.

Terpisah, Wayan Sujana selaku tokoh seniman Buleleng menjelaskan bila secara pakem, gerakan joged bumbung memang mengekspresikan kegembiraan. 

Ia juga tidak menampik kalau gerakan joged bumbung sesuai pakem, memang ada unsur genit yang tujuannya ikut merangsang pengibing agar mau lebih atraktif dan tidak malu-malu saat menari.

Itu berbeda dengan joged bumbung jaruh yang selama ini sering ditampilkan, dan muncul di media sosial.

“Yang dikatakan ekspresi jiwa penari, seperti kenyemegol, itu saja dasarnya. Ada nuansa genit untuk merangsang pengibing untuk ikut menari,” katanya.

Sujana mengungkapkan banyak oknum-oknum yang merusak citra joged bumbung, dengan joged bumbung jaruh. Meski alasannya karena pemenuhan ekonomi.

Hal itu justru merusak kredibilitas joged bumbung, karena persoalan yang muncul berdampak pada sekaa/sanggar joged yang memang menjalankan pakem.

“Ada calo yang merusak demi uang. Mereka bukan sekaa joged tetapi berani memperlihatkan bagian tubuh, ngangkuk. Itu yang dicari para calo, sehingga merusak,” lanjutnya.

Secara pribadi, Sujana meminta kepada para sekaa/sanggar joged bumbung untuk sama-sama sadar akan pakem yang berlaku. Ini semata-mata menjaga budaya yang ada juga citra daerah.

Ia juga meminta agar tidak memanfaatkan joged bumbung secara jaruh untuk kepentingan ekonomi.

“Sebaiknya, akar rumput atau desa adat yang membuat pararem. Agar masyarakat yang mengikuti aturan itu, kalau melanggar bisa kena sanksi desa,” sarannya. ***

Editor : Donny Tabelak
#joged bumbung #video viral #Pengibing #erotis #pesta kesenian bali #pakem #disbud buleleng #Desa adat