SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Dampak perubahan iklim bukan isapan jempol, namun nyata adanya.
Perubahan iklim berdampak serius terhadap alam dan ekosistemnya. Sehingga berdampak pada aktivitas hewan, termasuk yang ada di laut.
Dampak perubahan iklim itu mulai terasa di pesisir utara Pulau Bali. Pantai-pantai yang jadi lokasi bertelurnya penyu, kini jarang disinggahi hewan tersebut.
Biasanya penyu-penyu akan ramai bertelur sejak bulan Mei hingga bulan Agustus. Namun kini jumlah penyu yang bertelur sangat sedikit.
Baca Juga: Terdampar di Pantai, Penyu Hijau Ditemukan Mati
Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Penimbangan Lestari, Gede Wiadnyana mengungkapkan, terjadi anomali dalam perilaku penyu tahun ini.
Menurutnya pada tahun 2023 lalu, penyu yang bertelur sangat banyak. Pada awal bulan Juni 2023 saja, ada 2.737 butir telur penyu yang berhasil diselamatkan.
“Padahal waktu itu belum sebulan. Tapi sudah ribuan butir. Sampai kewalahan kami membantu penangkaran,” kata Wiadnyana saat ditemui di Pantai Penimbangan, Minggu (16/6/2024).
Baca Juga: Terdakwa Penyelundup Penyu Divonis 5 Bulan, Kasusnya Berawal dari Kejar-kajaran dengan Polisi
Namun fenomena itu berbanding terbalik dengan kondisi tahun ini. Sejak April hingga pertengahan Juni ini baru ada 20 sarang dengan total 2.099 telur yang diselamatkan.
Telur-telur itu bukan hanya berasal dari Pantai Penimbangan saja. Tapi ada juga yang berasal dari Pantai Kalianget, Pantai Taman Sari, Pantai Camplung, dan Pantai Bungkulan. Seluruhnya merupakan telur penyu lekang.
“Memang agak berbeda tahun ini. Tumben yang bertelur tidak begitu banyak,” ujarnya.
Terpisah, Dosen Jurusan Kelautan dan Perikanan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Gede Iwan Setiabudi mengungkapkan, penyu-penyu biasanya akan bertelur mulai bulan Februari hingga Agustus.
Berdasarkan fenomena yang terjadi di pesisir Bali Utara, puncak musim bertelur akan berlangsung hingga bulan April hingga Juli.
“Agustus atau paling lambat September itu masih ada. Tapi puncaknya ya bulan-bulan ini semestinya. Tapi tahun ini sepertinya agak lambat dari biasanya,” kata Iwan.
Ia menduga perubahan iklim turut mempengaruhi aktivitas penyu-penyu di lautan. Sebab perubahan iklim sangat berpengaruh dalam ekosistem.
Iwan mencontohkan, kenaikan suhu 1 derajat celcius di laut, akan sangat berpengaruh pada terumbu karang.
Kenaikan suhu akan mengakibatkan terumbu karang mengalami pemutihan alias bleaching. Hal itu akhirnya akan berdampak pada ekosistem lainnya, termasuk penyu.
“Apalagi kalau sampai ada cuaca ekstrem. Misalnya malam dingin sekali, kemudian siang panas sekali, itu sangat pengaruh,” ujarnya.
Terkait fenomena minimnya penyu yang bertelur, Iwan mengatakan dirinya perlu waktu lebih panjang untuk mengamati fenomena tersebut. Bisa jadi musim bertelur yang mundur, atau ada faktor lain yang jadi pemicu. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya