SINGARAJA, radarbuleleng.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng mengukuhkan Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng sebagai desa tangguh bencana.
Menariknya, Desa Les menjadi yang pertama ditetapkan sebagai Desa Wisata Tangguh Bencana (Dewitana).
Pengukuhan ini dilakukan pada Senin (29/7) pagi, yang dihadiri Camat Tejakula, Perbekel Desa Les, Bendesa Adat Desa Les, tokoh masyarakat, Forum Pengurangan Resiko Bencana (PRB), serta LPM Desa.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buleleng, Putu Ariadi Pribadi menjelaskan bahwa pengukuhan Desa Les sebagai Dewitana, sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mendukung pengembangan wisata di wilayah tersebut.
Apalagi Desa Les masuk dalam daftar 50 besar desa Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.
Ariadi mengatakan bahwa upaya pencegahan terhadap munculnya dampak bencana, adalah dengan pelibatan masyarakat dalam penanggulangan bencana. Atau disebut juga dengan penanggulangan bencana berbasis masyarakat.
Di Desa Les, sejak tahun 2021 sampai 2023 telah terjadi bencana kebakaran hutan, lahan dan bangunan, cuaca ekstrim, tanah longsor, pohon tumbang, orang hilang, tembok roboh, dan jalan jebol.
Sedangkan secara umum, berdasarkan Peraturan Bupati Buleleng Nomor 59 Tahun 2022 tentang Kajian Risiko Bencana Kabupaten Buleleng Tahun 2022-2026, terdapat sembilan potensi bencana di Buleleng.
Seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, kekeringan, gelombang ekstrim, cuaca ekstrim, kebakaran hutan dan lahan, serta banjir bandang.
”Dengan pengukuhan ini, kami perkuat lagi bagaimana desa ini berkembang dari segi pengembangan wisata, kemudian kami dukung dari segi penanggulangan kebencanaan,” ujar Kalaksa BPBD Buleleng itu dikonfirmasi pada Selasa (30/7) siang.
Ariadi melanjutkan, bila Desa Les sudah memenuhi sejumlah indikator penilaian sehingga dikukuhkan menjadi Dewitana.
Seperti kebijakan dari desa, komitmen, dukungan anggaran dari APBDes, hingga dokumen kajian risiko bencana tingkat desa.
Bahkan di Desa Les juga terbentuk organisasi relawan yakni Forum Pengurangan Resiko Bencana (PRB) Desa Les, pelatihan relawan, termasuk dengan dukungan sarana prasarana.
Ariadi menyampaikan bahwa dengan menjadi Dewitana, Desa Les diharapkan mampu mengetahui potensi bencananya sendiri, juga masyarakatnya memiliki keterampilan guna menanggulangi bencana, baik sebelum, saat, maupun sesudah terjadi bencana.
”Tetapi kita pemerintah tetap bertanggung jawab, tapi masalah kebencanaan tidak bisa pemerintah sendiri, harus berdayakan masyarakat. Artinya penanggulangan bencana berbasis masyarakat, itulah tujuan dibentuk desa tangguh bencana,” lanjutnya lagi.
Dengan bertambahnya Desa Les sebagai desa tangguh bencana, menambah deretan desa serupa di Buleleng yang mandiri dalam menanggulangi bencana, yang kini berjumlah delapan desa tangguh bencana.
Sebelumnya, ada Desa Tajun dan Desa Mengening (Kecamatan Kubutambahan), Desa Galungan dan Desa Lemukih (Kecamatan Sawan), Desa Pancasari dan Desa Gitgit (Kecamatan Sukasada), dan Desa Musi (Kecamatan Gerokgak).
Desa Les sendiri menjadi yang pertama di Kecamatan Tejakula yang menjadi desa tangguh bencana, sekaligus menjadi desa wisata tangguh bencana.
”Kami targetkan di 2024 ini tambah lagi dua desa, jadi ada 10 desa tangguh bencana. Namun ini bertahap, karena komitmen pemerintah desa, jadi kami jajaki terus,” tutup Ariadi. ***
Editor : Donny Tabelak