Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Rawat WNA Terlantar dan Meresahkan, RSUD Buleleng Dibuat Puyeng

Francelino Junior • Selasa, 20 Agustus 2024 | 02:05 WIB
LCN tampak marah-marah ke perawat RSUD Buleleng. Rumah sakit kini puyeng menghadapinya karena sikapnya yang mengamuk dan tidak memiliki pendamping.
LCN tampak marah-marah ke perawat RSUD Buleleng. Rumah sakit kini puyeng menghadapinya karena sikapnya yang mengamuk dan tidak memiliki pendamping.

SINGARAJA, radarbuleleng.id - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Buleleng kini tengah puyeng.

Sebab mereka tengah merawat salah seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Australia berinisial LCN, 37, yang malah meresahkan pasien lainnya.

WNA tersebut datang ke RSUD Buleleng pada Sabtu (10/8) lalu sekitar pukul 05.12 Wita.

Saat itu ia datang dalam kondisi tidak sadar, yang diantar oleh kerabatnya. Namun usai pendaftaran, WNA tersebut ditinggal oleh kerabatnya.

Karena saat itu kondisinya kurang stabil, WNA Australia itu lalu dirawat di Ruang Leli 1, kemudian pindah ke Ruang Flamboyan pada Selasa (13/8), lalu selesai mendapatkan perawatan pada Kamis (15/8) karena kesadarannya sudah membaik dan bisa berjalan kembali.

”Tapi sekarang persoalan kesehatan jiwa yang bersangkutan. Tidak mau mengikuti aturan rumah sakit, tidak mau diam di tempat tidur, kadang teriak-teriak, seperti panik. Tidak agresif, mengamuk, atau mencederai orang,” jelas Direktur RSUD Buleleng, dr. Putu Arya Nugraha.

Masalah lainnya yang membuat RSUD Buleleng makin puyeng, adalah WNA perempuan itu tidak memiliki pendamping.

Bahkan ia juga tidak tahu harus diantar pulang kemana. Orang tuanya di Australia saat dihubungi pun mengaku sudah melepas tanggung jawab terhadap anaknya itu.

Ini tentu menjadi masalah tersendiri, mengingat penanggung jawab atas WNA tersebut tidak jelas, sedangkan pembayaran pelayanan medis pun berstatus bon saat ini. 

Direktur Arya Nugraha mengaku sempat berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Buleleng namun mereka tidak bisa bergerak, karena yang bersangkutan adalah WNA dan tidak memiliki SOP penanganannya. 

Pihaknya juga sempat berkoordinasi dengan Kantor Imigrasi Singaraja, namun mereka tidak bisa bergerak karena LCN tidak melanggar aturan keimigrasian.

Akhirnya RSUD Buleleng berkoordinasi dengan Konsulat Jenderal Australia di Bali, namun jawaban mereka ternyata tidak sesuai harapan. Yakni mereka tidak memiliki tupoksi mendampingi warganya yang sakit.

Arya Nugraha berpendapat seharusnya konsulat tetap memiliki tugas dan tanggung jawab kepada warga yang berada di Bali. Sehingga bisa dibantu untuk mencari penanggung jawab di negara asalnya.

”Seperti sekarang seharusnya pasien ini harus dirujuk ke RSJ Bangli atau RSUP Prof Ngoerah, tapi tidak dilakukan karena tidak ada pendamping. Sedangkan di sini sudah tidak bisa layani, karena memerlukan layanan jiwa,” lanjutnya.

Arya Nugraha berharap agar WNA yang statusnya adalah ekspatriat itu dapat diperhatikan oleh lembaga terkait.

Karena saat ini kondisinya yang malah meresahkan di RSUD Buleleng, lantaran sering berteriak histeris dan mengamuk.

Meski RSUD Buleleng sudah memindahkannya dari bangsal ke Mahotama, agar ia tidak makin meresahkan. Nyatanya, sikap WNA berusia 37 tahun itu tetap saja meresahkan kenyamanan pasien lainnya.

Direktur RSUD Buleleng itu pun meminta agar turis yang datang ke Indonesia dapat diperhatikan dan dipertegas kembali dokumennya.

Bukan tanpa alasan, merujuk pada kasus WNA Australia ini, Arya Nugraha merasa banyak orang yang terbebani.

”Ini bukan yang pertama sebetulnya. Mohon pihak terkait diupayakan agar tidak terjadi yang seperti ini. Malah membebankan banyak orang. Kita harus tetap memiliki harga diri,” tegasnya. ***

Editor : Donny Tabelak
#Wna mengamuk #orang terlantar #WNA Australia #rsud buleleng