SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Ada yang menarik pada pagelaran Singaraja Literary Festival (SLF) 2024, yang digelar kemarin (25/8/2024).
Kolaborasi sembilan orang seniman, mewarnai pagelaran festival tersebut. Mereka memaknai teks dalam lontar Dharma Pemaculan yang notabene salah satu koleksi lontar di Museum Gedong Kirtya Buleleng.
Lontar Dharma Pemaculan merupakan mansukrip yang berisi tentang tata cara mengolah lahan dan budi daya pertanian.
Pada pada ajang SLF 2024, manuskrip itu dimaknai dengan lebih dalam. Lontar tersebut dimaknai sebagai energi untuk bumi.
Dalam festival, para seniman yang berkolaborasi diberikan kebebasan menginterpretasikan manuskrip itu menjadi sebuah karya.
Mereka kemudian mengolahnya menjadi pagelaran kolaborasi musik, antara musik akustik dengan gamelan.
Direktur SLF 2024, Kadek Sonia Piscayanti mengatakan, sepanjang festival pihaknya menyiapkan berbagai program.
Bukan hanya soal diskusi, literasi, atau peluncuran buku semata. Namun juga interpretasi hingga alih wahana dalam teks lontar.
Salah satunya adalah kolaborasi para seniman yang melakukan alih wahan dari teks lontar, menjadi sebuah pertunjukan yang memukau.
“Semuanya bebas menginterpretasikan, termasuk melakukan alih wahana. Sehingga teks dalam manuskrip lontar, tidak hanya berhenti di perpustakaan. Tapi juga bisa diinterpretasikan lebih luas lagi,” ujarnya.
Selain itu pada kegiatan tersebut juga terdapat program Free Kids Corner. Dalam program tersebut anak-anak terlibat dalam kegiatan mendongeng, games, mewarnai, bernyanyi, belajar menulis cerita, dan membuat origami. Program tersebut khusus menyasar anak TK dan SD.
“Kenapa harus ada program ini, karena, menurut kami, anak-anak juga memiliki hak untuk berpartisipasi di SLF tahun ini,” demikian Sonia. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya