Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Dini Hari, Gempa Bumi Guncang Buleleng. Lontar di Bali Ungkap Makna dari Gempa yang Terjadi

Eka Prasetya • Jumat, 6 September 2024 | 13:33 WIB

 

Ilustrasi gempa bumi
Ilustrasi gempa bumi

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Buleleng pada Jumat (6/9/2024) dini hari.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melaporkan, gempa terjadi pada pukul 04.13.40 WITA.

Guncangan gempa berkekuatan 3 skala richter. Pusat gempa berada sekitar 12 kilometer arah tenggara kota Singaraja, tepatnya di sekitar wilayah Kubutambahan.

Guncangan yang dirasakan mencapai skala II MMI, yang artinya benda-benda di dalam rumah bergoyang.

Namun sejumlah warga mengungkapkan bahwa guncangan yang terjadi relatif keras, sehingga menyebabkan warga terbangun dari tidurnya.

“Getarannya keras, sampai tidak bisa tidur lagi,” ungkap salah seorang warga di Desa Bengkala.

Baca Juga: Bali Digoyang Gempa, Ada 8 Getaran yang Tercatat

Gempa bumi menjadi perhatian khusus bagi masyarakat adat di Bali. Gempa juga telah dipelajari oleh leluhur masyarakat Bali.

Dampak gempa, secara khusus dituangkan dalam teks lontar yang bernama Lontar Palalindon.

Hal itu terungkap dalam karya ilmiah berjudul “Linuh Dalam Teks Palalindon: Perspektif Sosiologis Umat Hindu Bali”.

Karya ilmiah itu ditulis oleh tim peneliti dari Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar dan dipublikasikan pada tahun 2016 lalu. Kini IHDN Denpasar telah berubah nama menjadi Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa.

Penelitian terkait lontar Palalindon dilakukan oleh I Made Giri Nata yang dosen Filsafat Hindu, I Gede Rudia Putra yang juga mantan Rektor IHDN Denpasar, serta I Gusti Made Widya Sena yang dosen Teologi Hindu.

Bila mengacu kalender Bali, gempa bumi yang terjadi pada Jumat (6/9/2024) berarti terjadi pada rahina sukra umanis pada sasih katiga.

Berikut makna gempa bumi yang terjadi pada sukra umanis sasih katiga:

Dalam Lontar Palalindon, gempa yang terjadi pada sasih katiga memiliki makna tersendiri.

Pada lontar tertulis sebagai berikut: tekaning lindu, Bhatari Sri Mayoga, rahayu ikang rat, tahun dadi,  toya teka angemu rusaning lemah, Bhatara Guru sedih denim bah banget mwang udan madres, ewawh ikang wang salah paksa, karepnia, akweh wang kacarik pejaha.

Makna dari gempa yang terjadi pada sasih katiga atau bulan ketiga dalam kalender Bali adalah: Apabila sasih katiga terjadi linuh, Bhatara Sri beryoga selamatlah dunia, tanaman berhasil, air besar mengandung sari-sari tanah. Tetapi Bhatara Guru sedih karena air terlalu besar, hujan deras, sulitlah orang mencari makan dan banyak orang meninggal karena ke sawah (karena mengelola sawah).

Baca Juga: Tujuh Kali Diguncang Gempa, BPBD Karangasem Pastikan Aktivitas Gunung Agung Terpantau Normal

Lontar Palindon juga membahas dampak gempa yang terjadi pada hari tertentu. Dalam hal ini hari Jumat atau rahina sukra dalam kalender Bali.

Dalam teks lontar tertulis: tekaning lindu, eweh sang manca negara, gering makwe, sungsut sang prabhu, istri malalis, kebo sampi makweh pejah, pamigenaning Bhatari Gangga ring Wrespati pamigenaning Sang Hyang Sumirana.

Arti atau makna gempa bumi yang terjadi pada hari Jumat adalah: Terjadi linuh, pemimpin dunia merasa susah karena banyak wabah, para wanita tiada peduli, kerbau sai banyak yang mati akibat kutukan Bhatari Gangga.

Sementara dalam perhitungan pancawara juga didapat penjelasan sebagai berikut: tekaning lindu, sarwa tinandur rusak, mwang pari mati busung, eweh sang amawa rat, mangrawosin baya sang prabu kageringan, mwah pejang aperang, bukti rug ikang bumi rebah, pamigenan Sanghyang Iswara.

Arti atau makna gempa bumi yang terjadi pada umanis sebagai berikut: terjadi linuh, segala tanaman rusak, padi mati busung, pemimpin susah dalam mencari solusi kepemimpinan, juga terjadi peperangan. Banyak yang mati, negara kacau balau akibat kutukan Sang Hyang Iswara.

Baca Juga: Gempa Berkekuatan 5.0 Skala Richter Guncang Jembrana Bali, BMKG Pastikan Tak Ada Kerusakan

Melihat penjelasan dari lontar tersebut, gempa yang terjadi pada rahina sukra umanis sasih katiga 1946 caka atau pada Jumat (6/9/2024), bermakna sebagai berikut:

Ada ancaman gagal panen yang menyebabkan masyarakat kelaparan atau kesulitan membeli beras. Negara juga kacau balau karena konflik yang menyebabkan jatuhnya korban. Di satu sisi, ada harapan dengan turunnya hujan, namun hujan itu bisa jadi menyebabkan bencana alam yang juga akan menyulitkan masyarakat.

Dalam lontar juga disebutkan cara untuk mencegah marabahaya tersebut. Salah satunya dengan melakukan upacara pecaruan.

Mengingat gempa terjadi pada sasih katiga, dalam lontar disebutkan sarana yang dapat digunakan, meliputi: seekor celeng pelen, nasi wre mawadah wakul, dua penek, seekor iwak ayam wangkas mapanggang, guling itik, isuh-isuh, rwaning suda mala, rwaning temen ireng, artha nia 225, dan lawe satukel.

Sedangkan mantra yang dilafalkan yakni: ong Sri Wisnu Maharaja, iki tadah sajinira, kalawan kaki Bhatara Guru, tekaning anak ira kabeh, Ong pepeking uriping bumi, amreta.

Hal itu hanya sebuah fenomena yang diyakini oleh masyarakat adat di Bali, mengingat hal tersebut tercatat dalam teks Lontar Palindon. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#Lontar Palalindon #lontar #buleleng #gempa bumi