SINGARAJA, radarbuleleng.id - Banjir yang kembali terjadi di ruas Jalan Raya Singaraja-Denpasar tepatnya di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng pada Senin (9/9) sore, kini membuat pemerintah akan segera melakukan normalisasi drainase di sana.
Hal ini terungkap dalam rapat koordinasi yang dilakukan pada Kamis (12/9) siang di Rumah Jabatan Bupati Buleleng.
Selain dihadiri oleh unsur Pemerintah Kabupaten Buleleng, hadir juga Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida dan Satker PJN Wilayah III Bali.
Pasca banjir tersebut, normalisasi drainase menjadi langkah jangka pendek yang akan diambil pemerintah, setidaknya mencegah untuk sementara waktu terjadinya banjir lagi di kawasan tersebut.
Dari skema sistem pengaliran saluran drainase di Desa Pancasari yang diterima Radar Bali, bahwa titik banjir berada dekat dengan Hotel Bali Handara.
Disebutkan pula bahwa saluran air eksisting di sana berjalan dengan normal, baik di kiri dan kanannya.
Namun sebelum melewati Pos Polisi Pancasari, saluran eksisting di barat jalan perlu dilakukan rehabilitasi sampai melewati Kantor Desa Pancasari, hingga sampai pada crossing drainase menuju Danau Buyan.
Sedangkan crossing drainase dari timur ke barat jalan berfungsi optimal.
Tapi ada juga dari titik banjir, yang saluran eksistingnya berada di timur jalan menuju ke saluran drainase ex saluran Bali Handara, ternyata perlu juga direhabilitasi. Saluran itu juga mempengaruhi adanya banjir di jalan raya.
Selain dua saluran eksisting yang berada di jalan raya utama, ada juga dua saluran eksisting yang perlu direhabilitasi yakni dari Pangkung Tunggal menuju Jalan Laksamana menuju Gang Jagung dan di Pangkung yang melintasi jalan menuju Dasong. Sehingga daya tampung air ketika hujan dapat teroptimalisasi.
Kepala BWS Bali-Penida, Muhammad Noor mengatakan bahwa pihaknya akan membantu menurunkan alat berat, guna melakukan pengerukan sedimentasi yang terjadi di drainase, pada titik krusial itu.
Sementara berbicara jangka panjang, pihaknya mengaku tidak mau terburu-buru mengambil keputusan.
Sebab perlu kajian pasti, agar banjir tidak terus terjadi di sana. Kajian tersebut dilakukan, karena aliran air di daerah puncak itu selalu bermuara ke Danau Buyan.
”Untuk jangka panjang kami perlu kajian pasti, karena ini terkait dengan topografi yang ada. Tentunya untuk memastikan alur air dan skema yang sesuai, sehingga air bisa dialirkan ke titik akhir,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Buleleng, Putu Adiptha Ekaputra menjelaskan, bila lebar saluran drainase di sana hanya 1x1 meter. Sehingga pelebaran dimensi sangat penting dilakukan.
Namun, pelebaran dimensi drainase terkendala lahan warga. Tetapi Adiptha mengaku Pemerintah Kabupaten Buleleng sudah berkomunikasi dan melakukan pendekatan persuasif, agar warga mau merelakan tanahnya sekitar 1 meter untuk perluasan drainase.
”Sementara air akan dialirkan ke arah danau. Tapi jangka panjang, perlu kajian pastinya. Sedangkan pembebasan lahan untuk pelebaran, sedang urus administrasinya,” jawab Adiptha.
Di lain pihak, Kepala Satker PJN Wilayah III Provinsi Bali, Noor Fachrie sepakat, bila pelebaran dimensi drainase dapat menjadi solusi jangka panjang.
Karena menurutnya, secara kasat mata yang menjadi penyebab banjir adalah drainase tidak sanggup menampung debit air.
Katanya, jika banjir permanen yang waktu surutnya lama, berarti tidak ada saluran pembuangan air.
Namun sebaliknya, bila dalam dua jam dapat surut, berarti saluran air berfungsi. Meski kapasitas menampung air belum besar.
”Kalau pemerintah pusat ikut andil, maka perlu kesiapan lahan dari pemerintah daerah, serta ada desainnya. Kurang lebih ruas jalan di Pancasari itu panjangnya 1,5 kilometer,” ujarnya. ***
Editor : Donny Tabelak