Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Rayakan Maulid Nabi, Warga Desa Pegayaman Gelar Mengarak Sokok

Francelino Junior • Rabu, 18 September 2024 | 21:05 WIB
Tradisi mengarak sokok di Desa Pegayaman dalam rangka merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Tradisi mengarak sokok di Desa Pegayaman dalam rangka merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW.

SINGARAJAradarbuleleng.id- Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kabupaten Buleleng, berlangsung meriah di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada.

Di sana, digelar tradisi mengarak sokok untuk merayakan salah satu hari suci Islam. Mengarak sokok berlangsung pada Selasa (17/9) siang.

Tradisi ini sangat unik, yakni membawa ratusan telur yang sudah dipasang sedemikian rupa dengan hiasan yang menarik, kemudian dibawa berkeliling desa. Telur digunakan, karena dianggap sebagai simbol kelahiran.

Sokok itu dibawa oleh puluhan orang dengan penuh semangat, tentunya dengan penuh suka cita dalam pawai. Apalagi dalam rangka merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tokoh Masyarakat Desa Pegayaman, Muhammad Suharto mengatakan, perayaan Maulid Nabi di Desa Pegayaman merupakan momen yang sangat penting.

Sebab akan terlihat karya-karya akulturasi budaya yang dimunculkan oleh para penglingsir desa. Yang tujuannya sebagai upaya untuk meraih taqwa kepada Allah SWT. 

Suharto melanjutkan, bahwa di Desa Pegayaman setiap tahun merayakan hari besar ini. Meski puncak perayaan ini digelar pada tanggal 12 dan 13 Rabiul Awal 1446 H atau 16 dan 17 September 2024, tapi mereka bisa mulai merayakan sejak tanggal 7 atau 8 Rabiul Awal.

”Orientasinya menggembirakan kehadiran dan kerasulan Nabi Muhammad SAW, dengan cara budaya-budaya. Itu juga dalam rangka iman dan taqwa,” ujarnya.

Dilanjutkan lagi, bahwa perwujudan iman dan taqwa yang gembira dalam Maulid Nabi, melalui kreasi sokok. Mulai sokok base, sokok taluh, hadrah, burdah, dzikir, hingga wirid.

Rangkaian perayaan ini pun sudah dimulai sejak Kamis (5/9), dengan beberapa kegiatan yang puncaknya adalah mauludan base pada Senin (16/9) dan mauludan sokok pada Selasa (17/9).

Mauludan diawali dengan dzikir mulud usai sholat subuh. Dilanjutkan dengan mengarak sokok sekitar pukul 07.30 Wita oleh grup hadrah di rumah warga yang akan sedekah sokok.

Di sana, para pemain dan penari hadrah menampilkan atraksi seni di depan pemilik sokok dan warga sekitarnya.

Sokok base kemudian dibawa warga dengan iring-iringan menuju ke Masjid Jami’ Safinatussalam, satu-satunya masjid yang ada di Desa Pegayaman.

Untuk diketahui, Sokok base dibuat dari base (daun sirih) dilengkapi dengan buah, telur, dan bunga gumitir kemudian dirangkai pada sebatang gedebong pisang.

Sokok base yang terkumpul di masjid tahun ini sebanyak 123 sokok base, sedangkan total sokok ada 160.

”Sokok base adalah gambaran harmonisasi antara Islam Bali dan budaya Hindu Bali. Semua itu, wujud realisasi ungkapan di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung,” lanjut Suharto.

Warga kemudian akan berkumpul untuk menyaksikan pawai mengarak sokok, usai salat zuhur. 

Sokok ini dibuat di atas dulang, yang dalam budaya Hindu digunakan untuk membuat gebogan yang dihaturkan kepada dewa. 

Namun di Pegayaman, dulang digunakan untuk membuat sokok yang dihiasi dengan bunga gemitir, buah-buahan, dan daun sirih. Telur biasanya akan terlihat di bagian atas sokok.

”Semua kemeriahan ini dalam rangka kehadiran rasul, yang mana untuk mempertebal iman keyakinan kami kepada Allah SWT dan kerasulan Nabi Muhammad SAW,” tutupnya.  ***

Editor : Donny Tabelak
#sokok #telur #tradisi unik #desa pegayaman #maulid nabi