Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Keluhkan Retribusi dan Tata Kelola, Pedagang Pasar Anyar Geruduk Posko Pemenangan PDIP Buleleng

Francelino Junior • Kamis, 3 Oktober 2024 | 21:10 WIB

 

SAMPAIKAN ASPIRASI: Para pedagang menyampaikan aspirasi ke Posko Pemenangan PDI Perjuangan Buleleng, Rabu (2/10/2024) malam.
SAMPAIKAN ASPIRASI: Para pedagang menyampaikan aspirasi ke Posko Pemenangan PDI Perjuangan Buleleng, Rabu (2/10/2024) malam.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Puluhan pedagang Pasar Anyar Buleleng mendatangi Posko Pemenangan PDI Perjuangan di Jalan Sudirman Singaraja pada Rabu (2/9/2024). 

Mereka mengeluhkan retribusi yang dirasa memberatkan pedagang kecil. Penyebabnya, retribusi tetap dikenakan meski pedagang tidak berjualan.

Salah satu pedagang nasi campur, Jero Pasek, mengungkapkan keluhannya kepada pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra dan Gede Supriatna. 

Ia mengeluhkan kebijakan retribusi yang mengharuskan pedagang membayar Rp 5.000 per hari, meskipun tidak berjualan.

"Aturan ini berat sekali bagi kami, terutama bagi pedagang kecil yang tidak bisa makan jika tidak bekerja. Saya berharap jika Pak Sutjidra dan Supriatna terpilih, mereka bisa membuat kebijakan yang lebih berpihak kepada kami," ujar Jero Pasek, yang telah berjualan selama 20 tahun.

Putu Juniarta, pedagang buah, juga mengungkapkan keberatannya. Ia bercerita bahwa setelah tidak berjualan selama 1,5 bulan karena acara ngaben, ia langsung menerima tagihan retribusi yang harus segera dibayar. 

Putu menjelaskan bahwa ia dikenakan retribusi dua kali sehari, pagi dan sore, sebesar Rp 5.000 masing-masing.

"Kalau dihitung, dalam sehari saya harus bayar Rp 10.000. Jika punya dua lapak, maka harus membayar Rp 20.000 sehari. Walaupun terlihat kecil, jika tidak ada pembeli, apalagi habis acara seperti saya, sangat memberatkan," ungkapnya.

Putu juga menambahkan bahwa sebelumnya ada kebijakan potongan retribusi, namun kebijakan tersebut dicabut tanpa melibatkan perwakilan pedagang. 

"Kami tidak diajak berdiskusi, keputusan diambil sepihak," katanya, yang telah berdagang sejak 1995.

Keluhan lainnya datang dari seorang pedagang bernama Bu Jero, yang mempermasalahkan akses masuk ke Pasar Anyar. 

Menurutnya, hanya ada satu jalan masuk dari utara, sementara pintu keluar ada di timur dan selatan. Kondisi ini merugikan pedagang yang lapaknya berada di selatan.

"Kami yang berjualan di selatan kurang mendapat pembeli karena akses masuk hanya satu. Kami berharap di masa mendatang pintu selatan bisa dibuka," harapnya.

Gede Supriatna, calon Wakil Bupati Buleleng, menerima aspirasi tersebut dan menjelaskan bahwa selama menjabat sebagai Ketua DPRD, pihaknya sudah sering menerima keluhan dari pedagang di berbagai pasar, termasuk Pasar Anyar.

"Keluhan-keluhan ini memang sudah lama kami terima, namun masih banyak yang belum terselesaikan, terutama terkait retribusi dan penataan pasar," ujarnya.

Supriatna menegaskan bahwa jika terpilih, pasangan Sutjidra-Supriatna akan memprioritaskan kesejahteraan rakyat kecil, termasuk pedagang, buruh, petani, dan nelayan.

"Kami akan fokus pada kesejahteraan mereka dan memperbaiki tata kelola pasar yang belum maksimal. Kami juga sudah sering berdiskusi soal ini, namun belum terwujud dengan baik," tambahnya.

Selain itu, Supriatna juga menyatakan bahwa mereka akan melakukan kunjungan langsung ke pasar-pasar untuk memahami situasi dan mencari solusi terbaik. 

"Kami pasti akan turun langsung ke lapangan untuk melihat dan mendengarkan langsung kondisi masyarakat di pasar," tandasnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#pasar anyar #retribusi #buleleng #pedagang #Singaraja