SINGARAJA, radarbuleleng.id - Sebuah video mendadak jadi perbincangan di jagat dunia maya.
Video tersebut menampilkan tindakan penindakan disiplin yang dilakukan oleh seorang guru kepada muridnya. Video tersebut diketahui terjadi di SMKN 2 Singaraja.
Tindakan guru tersebut menjadi ramai, setelah video tersebut diunggah oleh Arya Wedakarna, Anggota DPD RI asal Bali.
Namun, tindakan penindakan disiplin oleh guru itu malah didukung oleh warganet.
Sebab penindakan disiplin berupa cukur rambut siswa, merupakan bentuk dari penegakan aturan di sekolah.
Kepala SMKN 2 Singaraja, Ni Ketut Wisiani membenarkan kalau tindakan yang diambil oleh salah satu guru di sekolahnya itu, memang dalam rangka penegakan disiplin. Kejadian itu ternyata terjadi pada Senin (21/10) lalu.
Siswa yang dicukur rambutnya diketahui berinisial A, yang merupakan siswa di jurusan kuliner.
Sedangkan guru yang menindak berinisial S, yang selain sebagai guru kelas, ia juga ternyata pembina kesiswaan.
Wisiani melanjutkan, penegakan disiplin utamanya terkait kerapian rambut, berkaitan dengan penampilan siswa apabila sudah terjun ke dunia kerja.
Sebab kurikulum sekolah diselaraskan dengan kebutuhan industri.
Apalagi SMKN 2 Singaraja memang sekolah vokasi, yang lulusannya kebanyakan langsung terjun ke dunia industri.
”Sebelum penindakan, sudah diingatkan sejak 2 minggu lalu terkait kerapian rambut. Namun ternyata belum juga dirapikan, sehingga dicukur rambutnya. Sudah sesuai SOP sekolah, yakni sosialisasi, peringatan, kemudian tindakan,” katanya pada Selasa (29/10) pagi.
Pasca beredar di media sosial, Wisiani pun melakukan konfirmasi ke guru yang melakukan tindakan, hingga ke siswa dan orang tuanya pada Kamis (24/10).
Ini untuk mengetahui permasalahan yang sebenarnya terjadi.
Dari pengakuan siswa tersebut, ternyata saat penindakan rambut ia meminta temannya agar divideokan.
Video tersebut lalu dibagikan ke grup kelas mereka. Siswa itu juga yang mengaku melaporkannya ke Arya Wedakarna.
Meski viral, namun orang tua siswa tersebut mendukung tindakan gurunya. Sebab mendidik anak juga merupakan tanggung jawab orang tua, selain guru dan sekolah.
Guru yang menindak pun mengaku bahwa saat penindakan pun, siswa tersebut tidak dalam kondisi tertekan.
Bahkan ada unsur bercanda saat pencukuran rambut terjadi. Guru tersebut juga tidak mengetahui kalau tindakannya itu direkam.
Saat ini, siswa tersebut hanya diberikan pembinaan saja, tidak diberikan sanksi yang berlebihan.
Dilanjutkan lagi, SMKN 2 Singaraja juga sudah melakukan sosialisasi terkait aturan dan tata tertib kepada siswa dan orang tua siswa.
Baik saat MPLS hingga setiap ada kegiatan di sekolah. Apalagi tiap sekolah tentu memiliki visi dan misi serta aturan sendiri.
Wisiani sebenarnya menyayangkan viralnya video tersebut, sebab akan menimbulkan banyak persepsi di masyarakat.
Bahkan ia meminta, kalau ada yang tidak berkenan dapat disampaikan langsung ke pihak sekolah.
”Jadi itu hanya cukuran peringatan saja, bukan yang aneh-aneh. Karena kalau aturan tidak ditindaklanjuti, nanti campah ten runguange gurune (keras kepala muridnya, mengacuhkan guru). Sebab ini lingkup pendidikan, kami punya tanggung jawab moral,” lanjut Wisiani.
Terpisah, Ketua PGRI Buleleng, I Putu Eka Wilantara mengatakan bahwa di tiap sekolah ada aturan masing-masing.
Bahkan ada buku saku yang memang disepakati oleh warga sekolah, termasuk orang tua siswa.
Guru pun, lanjut Eka Wilantara, memang memiliki kewajiban untuk menegakkan disiplin. Perpanjangan tangan mereka juga ada OSIS.
”Memang kewajiban guru menegakkan karakter, tetapi dalam batas-batas. Sebab sudah ada buku saku yang telah disepakati, ada aturan-aturan juga,” singkatnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Buleleng, I Made Sedana mengatakan tindakan yang dilakukan oleh guru tersebut masih dalam tahap yang bisa ditoleransi. Sebab tindakan tersebut merupakan edukasi kepada siswa.
Sedana khawatir, apabila tindakan guru itu dipermasalahkan, malah akan berdampak pada karakter siswa kedepannya.
Apalagi SMKN 2 Singaraja merupakan sekolah vokasi, yang lulusannya memang langsung bersentuhan dengan dunia industri pariwisata.
”Reward dan punishment itu jangan dipersoalkan. Kalau guru hanya mengajar saja, tidak ada tindakan aturan, nanti berpengaruh pada persoalan karakter siswa,” katanya.***
Editor : Donny Tabelak