Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Peringati Hari Guru 25 November, Guru di Buleleng Sempat Khawatir Ada Kriminalisasi karena Masalah Sepele

Francelino Junior • Senin, 25 November 2024 | 22:05 WIB
Suasana belajar mengajar di SMPN 8 Singaraja. Banyak suka duka yang dirasakan para guru muda dalam mendidik siswa. Namun mereka sepakat, jerih payah mereka tentu berdampak pada masa depan Indonesia.
Suasana belajar mengajar di SMPN 8 Singaraja. Banyak suka duka yang dirasakan para guru muda dalam mendidik siswa. Namun mereka sepakat, jerih payah mereka tentu berdampak pada masa depan Indonesia.

SINGARAJAradarbuleleng.id - Menjadi seorang guru memang gampang-gampang susah. Sebab pendidik akan menghadapi banyak kepala yang belum tentu sama pola pikirnya.

Tentu ini menjadi sebuah cerita menarik, dalam peringatan Hari Guru yang selalu jatuh pada tanggal 25 November. 

Menjadi seorang guru memang tidak pernah tergambar dan terbayangkan oleh Ketut Yogi Surya Dharma. Ia merupakan seorang guru yang bertugas di SMPN 8 Singaraja.

Sejak bertugas di tahun 2022 menjadi pendidik, Yogi mengaku mendapat pengalaman yang beragam.

Namun katanya, banyak rintangan, tantangan, dan pengalaman membuatnya semakin terpacu untuk mendidik siswa menjadi seorang manusia, yang nantinya memiliki karakter baik di lingkungan masing-masing.

”Tentu tidak mudah menghadapi banyak anak dalam 1 ruangan, dengan karakter mereka masing-masing. Ada siswa yang nakal sampai sangat pendiam,” ujarnya. 

Sebagai seorang guru, tidak etis baginya untuk membeda-bedakan siswa, sebab ia paham bahwa mereka semua berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda pula. Namun mereka semua berkumpul di sekolah untuk menerima ilmu yang sama. 

Di sekolah, pendidik juga bukan hanya bertugas sebagai pengajar, namun juga mengajak siswa untuk bersosialisasi, sekaligus mempromosikan diri sebagai orang tua mereka. 

”Dengan sering bersama, mereka akan percaya kepada kami sebagai pengajar, dan tentu dekat layaknya orang tua dan anak. Semua yang kami lakukan sebagai guru, adalah hal mulai bagi masa depan bangsa,” lanjutnya bijak.

Guru lainnya, Putu Angga Wisesa yang bertugas di SMPN 2 Sukasada mengaku puas apabila melihat siswa yang awalnya mengalami kesulitan, namun lambat laun berhasil memahami materi dan mencapai prestasi yang lebih baik.

Katanya, sebagai guru sebenarnya tidak hanya tentang mengajar materi pelajaran, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter dan masa depan siswa. Apalagi di sekolah, situasi selalu berbeda dan penuh kejutan.

”Interaksi dengan siswa yang beragam, membuat pekerjaan sebagai guru tidak pernah membosankan,” jawabnya. 

Kata Angga, duka sebagai guru saat ini adalah memiliki banyak tugas administratif. Seperti membuat laporan, mengoreksi tugas, dan mengikuti berbagai pelatihan.

Bahkan sebagai guru, ia juga harus menyesuaikan dengan perubahan kurikulum, serta menyesuaikan metode mengajarnya.

Mirisnya lagi, ia pernah menemukan siswa SMP yang ternyata masih belum bisa pendidikan dasar, seperti membaca dan berhitung. Ini menjadi tantangan tersendiri baginya.

”Kami sebagai guru harus memberikan waktu ekstra, untuk mengulang lagi materi dari dasar kepada beberapa siswa tertentu,” lanjut Angga yang sudah menjadi guru sejak tahun 2023 itu.

Di tempat lainnya, Dede Nata Parwanta, seorang guru yang bertugas di SMAN 3 Singaraja mengaku banyak memiliki pengalaman menarik.

Sebab selain bertugas sebagai guru, ia juga diberikan kepercayaan sebagai pembina ekstra dan OSIS. Bahkan mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi.

Baginya, menjadi seorang guru juga menjadikannya sebagai orang tua siswa di sekolah.

Kesabaran dalam menghadapi berbagai macam karakter dan pola pikir siswa, menjadi salah satu taruhan dalam mengajar.

Apalagi wajib memiliki strategi mengajar, agar siswa betah dan mengerti dalam mengikuti kegiatan belajar.

Dibalik itu semua, ternyata Dede mengaku mengalami shock culture saat pertama kali menjadi seorang guru.

Ia yang menjadi guru sejak tahun 2023, harus menghadapi perbedaan perilaku siswa,selain dengan banyaknya administrasi yang harus dikerjakan. 

Belum lagi ia yang merasa flashback dengan dirinya sendiri. Sebab, kala menjadi seorang siswa, ia datang dengan kepala kosong.

Namun kini, ia sebagai guru yang harus memberikan materi kepada siswa, dan itu wajib dipertanggungjawabkan. 

”Ada ketakutan juga, karena banyaknya berita terkait guru yang dikenakan hukuman gara-gara masalah sepele,” jawabnya khawatir. 

Meski begitu, Dede sepakat bahwa suka dan duka yang jelas terjadi pada seorang guru adalah sebuah perjuangan, untuk menciptakan generasi Indonesia yang cerdas dan berkarakter, yang berguna di masa depan yang akan datang.***

Editor : Donny Tabelak
#guru #hari guru #pendidikan #Guru Dikriminalisasi