SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Ancaman bencana di Buleleng semakin tinggi. Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi, terus mengguyur Buleleng sejak tiga minggu belakangan.
Hujan tersebut membuat ancaman bencana semakin tinggi. Baik itu bencana banjir, pohon tumbang, puting beliung, maupun tanah longsor.
Buktinya saat hujan mengguyur Buleleng pada Minggu (16/12/2024), longsor terjadi di sejumlah titik.
Diantaranya terjadi di Desa Bontihing, Kecamatan Kubutambahan dan Desa Lemukih, Kecamatan Sawan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng menghimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana alam. Terutama ketiga bepergian.
Baca Juga: Longsor di Desa Alasangker Buleleng, Ketinggian Timbunan Material Sampai 3 Meter
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Buleleng, Putu Ariadi Pribadi menyebut ada sejumlah titik bencana yang menutup akses jalan warga.
Diantaranya di Desa Lemukih dan Desa Bontihing. Bahkan di Desa Lemukih, longsor yang terjadi mirip seperti likuifikasi atau pencairan tanah.
Meski begitu, kejadian tersebut tidak sampai memakan kerugian, namun sempat membuat akses jalan menjadi terhambat.
”Sudah dikerjakan kemarin secara gotong royong bersama Dinas PUTR Buleleng, BPBD Buleleng, dan masyarakat,” ujar Ariadi Pribadi saat ditemui di Singaraja pada Senin (16/12/2024).
Ariadi menyebut, mengacu pada Dokumen Kajian Risiko Bencana Kabupaten Buleleng Tahun 2022-2026 yang disusun BPBD Buleleng, sejumlah wilayah yang memang menjadi titik rawan longsor.
Kecamatan Gerokgak menjadi wilayah dengan potensi bahaya paling tinggi apabila terjadi tanah longsor.
Kemudian yang masuk potensi sedang yakni Kecamatan Banjar, Busungbiu, Kubutambahan, Sawan, Seririt, Sukasada, dan Tejakula. Lalu yang potensi rendah ada di Kecamatan Buleleng.
Dari sisi risiko, Kecamatan Gerokgak dan Sukasada sangat berisiko. Sementara Kecamatan Banjar, Busungbiu, Kubutambahan, Sawan, Seririt, dan Tejakula masuk risiko sedang. Untuk risiko rendah ada di Kecamatan Buleleng.
”Memang ada beberapa titik yang berpotensi longsor, tapi belum tentu juga kejadian. Kalau Desa Bontihing dan Lemukih itu masuk dalam zona longsor. Karena curah hujan tinggi, dan posisi wilayah yang tanah berbukit,” lanjut Kalaksa BPBD Buleleng itu.
Pihaknya berharap dan meminta kepada masyarakat Buleleng maupun dari luar, agar memperhatikan kondisi cuaca dan waspada dengan bencana hidrometeorologi, dengan melakukan monitoring melalui prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya