SINGARAJA, radarbuleleng.id- Ternyata selama 3 bulan terakhir, sejak bulan Oktober-November 2024, tercatat ada 356 kasus penyakit Demam Berdarah (DBD) di Kabupaten Buleleng.
Saat akhir tahun, ternyata terjadi peningkatan kasus akibat kondisi cuaca Bali utara yang dilanda hujan
Dari data yang diterima Jawa Pos Radar Bali dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Buleleng, tercatat di 9 kecamatan di Buleleng pada bulan Oktober 2024 terjadi 74 kasus DBD dengan Kecamatan Sawan kasus terbanyaknya, yakni 20 kasus.
Kemudian di bulan November meningkat menjadi 111 kasus, masih Kecamatan Sawan menjadi daerah dengan kasus terbanyak dengan 27 kasus DBD.
Lalu di bulan Desember makin meningkat menjadi 171 kasus, dengan Kecamatan Sukasada penyumbang kasus terbanyak yakni 43 kasus DBD.
Sehingga di tahun 2024, utamanya di 3 bulan terakhir sebelum pergantian tahun tercatat ada 356 yang terbagi di 9 kecamatan di Bali utara.
Diketahui juga, di Kecamatan Tejakula, Kubutambahan, Buleleng, Sukasada, dan Banjar peristiwa DBD terjadi peningkatan.
Sementara di Kecamatan Buleleng, Seririt, dan Busungbiu kasusnya malah naik turun. Sementara di Kecamatan Gerokgak cenderung menurun.
”Memang ada peningkatan tapi tidak terlalu signifikan. Dari bulan November-Desember 2024, peningkatannya sekitar 50 kasus saja. Ini dimaklumi, karena kondisinya cuaca ekstrim, sehingga berpengaruh pada perkembangan DBD di Buleleng,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Buleleng, Nyoman Budiastawan pada Minggu (12/1).
Di tahun 2024, tercatat ada 1.892 kasus DBD. Sedangkan tahun 2023, ada 892 kasus. Sementara di tahun 2022 tercatat 875 kasus.
Budiastawan menyebut, perilaku masyarakat memang mempengaruhi terjadinya penyakit DBD. Sebab di bulan April 2024 saja, kasusnya tiba-tiba melonjak menjadi 348 kasus DBD.
Laki-laki mendominasi kasus terkena DBD dengan 55,21 persen sementara perempuan dengan 44,79 persen.
Usia 15-44 tahun juga paling banyak proporsinya terkena penyakit ini, yaitu sebanyak 44,18 persen.
Diketahui juga, ada 2 orang yang meninggal dunia karena terjangkit penyakit musiman ini, di tahun 2024.
Dinkes Buleleng disebut sudah melakukan sejumlah upaya, seperti fogging atau pengasapan, 1 rumah 1 jumantik, PSN 3M Plus, pemberian vaksin DBD, hingga penyuluhan.
”Upaya yang kami lakukan sudah komprehensif. Mudah-mudahan di cuaca ekstrim tahun ini, bisa diredam perkembangan DBD di Buleleng,” lanjutnya.
Ditambahkan lagi, bahwa ada kasus lain juga yang mengintai selain DBD, di musim pancaroba saat ini.
Salah satunya diare. Ini terjadi disebabkan karena kebersihan rumah dan lingkungan yang kurang terjaga di musim hujan.
Ditambah lagi dengan cuaca yang kurang menentu, mengakibatkan imunitas tubuh menjadi menurun.
”Musim penghujan biasanya diare. Saat hujan lalat banyak muncul, kemudian sampah berserakan, sehingga lingkungan menjadi kurang bersih. Mengakibatkan penyakit menular,” tutupnya.***
Editor : Donny Tabelak