SINGARAJA, radarbuleleng.jawapos.com- Ada yang berbeda pada Bulan Bahasa Bali VII di Buleleng tahun 2025 ini.
Sebab dari 6 kategori lomba yang ada, ternyata lomba mengetik dengan keyboard aksara Bali ditiadakan.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Buleleng, I Nyoman Wisandika hal ini sebagai bentuk selang-seling lomba saja.
Bulan Bahasa Bali VII di Buleleng berlangsung di areal Kantor Disbud Buleleng yang berada di Jalan Veteran Nomor 23 Singaraja.
Tercatat ada 6 lomba, yakni nyurat aksara Bali (SD), nyurat lontar (SMP), ngwacen lontar (SMA/SMK), sambrama wacana prajuru adat, masatua Bali (Pakis), dan debat mabasa Bali (SMA/SMK). Semuanya dilombakan pada Selasa (4/2).
Tema Bulan Bahasa Bali VII ini adalah Jagat Kerti Jagratha Samasta. Artinya pemuliaan altar bahasa, aksara, dan sastra Bali sebagai sumber kesadaran menuju harmoni semesta raya.
Namun lomba mengetik menggunakan keyboard beraksara Bali atau lomba mengetik dengan keyboard tamiang aksara Bali ternyata tidak ada.
Padahal lomba tersebut diprakarsai oleh Kabupaten Buleleng tahun 2024 lalu, untuk Bulan Bahasa Bali VI. Sekaligus untuk menjawab tantangan zaman saat ini, di era modern.
”Lomba mengetik dengan keyboard aksara Bali ditiadakan. Intinya sama, cuma ada perbedaan sedikit. Tahun depan kami adakan kembali, supaya ada selingan-lah,” ujarnya Wisandika.
Namun di samping itu, Kepala Disbud Buleleng menyebut kalau Buleleng merupakan kabupaten pertama di Bali, yang menggelar lomba serangkaian Bulan Bahasa Bali VII. Untuk diketahui, Bulan Bahasa Bali VII digelar sejak 1-28 Februari.
Penyelenggaraan kegiatan ini juga berdasarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018, yang mengatur tentang perlindungan dan penggunaan bahasa, aksara, dan sastra Bali. Peraturan ini juga mengatur penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.
”Total peserta 71 orang, dari semua kecamatan di Buleleng. Yang menjadi juara 1 akan kami kirim ke provinsi sebagai duta Kabupaten Buleleng di Bulan Bahasa Bali tingkat provinsi. Tapi akan kami bina dulu sebelum dikirim,” lanjutnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Buleleng, Gede Suyasa menegaskan, kalau setiap daerah memiliki karakteristik khas dalam penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.
Meskipun secara teknis, mengikuti petunjuk yang ditetapkan oleh pemerintah provinsi.
Namun dibalik itu, Suyasa menyebut yang paling penting dalam kegiatan tersebut adalah menjaga substansi dan kualitas, termasuk dengan perlombaan dan pecentokan.
Ia juga menyoroti tantangan pelestarian bahasa Bali, sebab memiliki stratifikasi yang kompleks.
Sehingga semakin halus bahasa Bali, maka semakin sulit dipahami dan enggan digunakan.
Masyarakat pun lebih memilih menggunakan bahasa Bali yang sederhana, untuk berkomunikasi.
”Lomba-lomba ini juga sebagai salah satu cara sosialisasi yang efektif. Setidaknya generasi muda juga siap menggunakan bahasa Bali dalam berbagai upacara adat. Seperti memadik atau pernikahan, yang membutuhkan penguasaan bahasa tingkat tinggi,” jelasnya.***
Editor : Donny Tabelak