SINGARAJA, Radarbuleleng.jawapos.com- Para pengusaha jasa konstruksi atau disebut juga dengan kontraktor maupun pemborong yang ada di Kabupaten Buleleng, diharapkan dapat melebarkan sayap skala mereka.
Sehingga mereka tidak hanya beroperasi untuk proyek-proyek di Bali utara, namun bisa juga mengambil proyek untuk proyek yang ada di Provinsi Bali.
Hal ini dikatakan Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna dalam Musyawarah Cabang X Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kabupaten Buleleng di kawasan Lovina, pada Senin (17/3) pagi.
Menurut Supriatna, saat ini kondisi para kontraktor ini sedang tidak baik-baik saja.
Mengapa? Karena tidak ada pengusaha konstruksi jasa dari Buleleng yang bersaing pada skala besar atau di Bali.
Tentu saja dengan adanya kontraktor yang skala kerjanya tidak hanya di Buleleng, akan ikut menyerap tenaga kerja dari Bali utara juga untuk diajak bekerja, selain dengan tenaga lokal dari lokasi proyeknya.
”Kalah dari daerah lain. Ini jadi tantangan, bagaimana mendorong dan memunculkan pengusaha jasa konstruksi dari Buleleng yang bersaing di provinsi,” ujar Wabup Supriatna.
Dilanjutkannya, memang di Buleleng ada mandatory spending sehingga di tahun 2027 nanti, ada anggaran untuk infrastruktur sebesar 40 persen dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kabupaten Buleleng.
Ini juga dapat menjadi lampu hijau, untuk berkembangnya dunia usaha jasa konstruksi di Bali utara.
Hanya saja dalam perjalanan nanti, Supriatna menyebut yang menjadi tantangan para kontraktor Buleleng adalah regulasi dalam tender proyek di lingkup Pemerintah Kabupaten Buleleng.
Sebab dengan sistem saat ini, semua kontraktor di Indonesia memiliki kesempatan untuk mengambil proyek di Buleleng.
”Harapannya agar semua proyek di Buleleng diambil teman-teman kontraktor di sini saja. Cuma regulasinya. Karena pengadaan barang dan jasa terbuka untuk umum, seluruh pengusaha wilayah di Indonesia bisa akses,” tambahnya.
Keinginan adanya pengusaha besar berskala nasional, yang lahir dan berkembang di Buleleng juga disampaikan Ketua Gapensi Buleleng, I Nyoman Gede Wandira Adi.
Katanya, di Buleleng pernah ada pengusaha jasa konstruksi seperti itu, hanya saja setelah semakin besar memilih pindah ke Denpasar.
Diakuinya, para kontraktor di Buleleng memiliki banyak kendala sehingga kalah dari wilayah lain di Bali.
Seperti melimpahnya sumber daya alam di Kabupaten Karangasem, hingga kuatnya finansial di Tabanan, Gianyar, Denpasar, Badung, dan Jembrana.
”Kalau di Buleleng, jarang sekali ada penerus dari generasi ke generasi. Bahkan dengan jiwa petarung orang Buleleng, menimbulkan persaingan tidak sehat dalam dunia jasa konstruksi di Buleleng,” ucapnya.
Wandira menyebut, Gapensi Buleleng dengan 41 anggota diharapkan dapat memunculkan persaingan yang lebih profesional dan sehat.
Kalau bisa, dari orang-orang tersebut lahir pengusaha jasa konstruksi yang berskala besar.
”Harus diakui, untuk memunculkan pengusaha besar, harus ada backup dari pemerintah kabupaten. Apalagi dengan adanya mandatory spending 40 persen di 2027, kami yakin pengusaha Buleleng tersenyum semua,” tutup pria yang juga wakil ketua DPRD Buleleng.***
Editor : Donny Tabelak