Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Disekap di Myanmar Selama 8 Bulan, TKI Asal Buleleng Berhasil Pulang. Masih Trauma Dengar Suara Raket Listrik

Francelino Junior • Minggu, 23 Maret 2025 | 23:58 WIB

 

KORBAN PERDAGANGAN ORANG: Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Buleleng, Made Juartawan saat mendatangi rumah salah seorang TKI asal Buleleng yang sempat disekap di Myanmar.
KORBAN PERDAGANGAN ORANG: Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Buleleng, Made Juartawan saat mendatangi rumah salah seorang TKI asal Buleleng yang sempat disekap di Myanmar.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Delapan bulan menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Myanmar, Kadek Agus Ariawan akhirnya berhasil kembali ke kampung halamannya di Kelurahan Liligundi, Buleleng. Dia sampai di rumah dan bertemu keluarga pada Jumat (21/3/2025) malam. 

Secara fisik, kondisi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) itu terlihat sehat. Namun dia mengaku masih mengalami trauma. Apalagi dia mengalami penyiksaan selama berbulan-bulan.

Ia mengaku terjebak dalam pekerjaan ilegal di sebuah wilayah terpencil di Myawaddy, Myanmar. 

Awalnya dia tergiur dengan iming-iming bekerja sebagai TKI atau yang sekarang disebut Pekerja Migran Indonesia (PMI). Dia mendapat tawaran bekerja di Thailand. Tawaran itu disampaikan oleh seseorang bernama Komang Budayasa.

"Awalnya saya kira ini kesempatan kerja yang baik. Tapi ternyata saya justru jadi korban perdagangan manusia," ujar Agus.

Pada 5 Agustus 2024, Agus bersama rekannya, Nengah Sunaria dari Desa Jinengdalem, berangkat ke Jakarta. 

Di sana, mereka bergabung dengan rombongan lain yang dijanjikan akan diberangkatkan ke Thailand. 

Namun setelah mendarat di Thailand, kenyataan berkata lain. Mereka diangkut menggunakan bus hingga mencapai perbatasan Thailand-Myanmar. 

Kecurigaan mulai muncul ketika rute yang dilalui tak sesuai tujuan. Saat tiba di perbatasan, mereka bahkan harus menyeberangi sungai menggunakan sampan.

"Di titik itu saya sempat berontak. Tapi teman saya menenangkan, katanya tempat kerja mungkin memang ada di perbatasan. Saya coba tetap tenang," ujarnya.

Namun kengerian mulai terasa saat mereka tiba di wilayah yang dijaga ketat oleh orang-orang bersenjata. Di sinilah Agus dan rombongannya menyadari bahwa mereka sudah terperangkap.

“Saya dibawa ke tempat yang disebut KK Park. Letaknya di lembah, dikelilingi bukit dan hutan. Tapi dalamnya seperti kota. Ada minimarket, klinik, dan banyak perusahaan,” tutur Agus.

Agus dipaksa bekerja di sebuah perusahaan scam atau penipuan yang menargetkan korban dari Irak, Turki, dan Rusia. 

Saat melakukan penipuan mereka menerapkan sejumlah modus. salah satunya, berpura-pura mencari cinta lewat dunia maya, lalu memeras uang dari korbannya. Jika tidak mencapai target, dia bakal disiksa.

Dia harus bekerja dari jam 16.00 sore hingga jam 08.00 pagi. Kadang bekerja sampai jam 10.00 pagi. 

Tidak ada gaji. Dia hanya diberikan tempat tinggal dan makan seadanya. Kalau dia tidak berhasil mendapatkan korban, dia akan disiksa.

“Saya disetrum, dicambuk, dipukul,” kisahnya.

Target yang dibebankan pun tidak main-main. Ia harus menguras uang korban hingga ratusan ribu dolar per bulan. Bila gagal, itu berarti dia akan disiksa.

“Pernah saya protes dan tidak mau kerja. Malah dianggap melawan. Saya disiksa selama seminggu. Akhirnya saya menyerah, sambil terus mencari celah agar bisa menghubungi keluarga atau pihak berwenang di Indonesia,” katanya.

Selama delapan bulan disekap, Agus sama sekali tidak bisa menghubungi keluarganya. Ponselnya disita. Namun harapan muncul ketika salah satu temannya ternyata menyembunyikan ponsel cadangan.

Lewat ponsel inilah mereka merekam video permintaan tolong dan menyebarkannya ke media sosial. Video itu kemudian viral dan membuka jalan bagi upaya penyelamatan.

“Tanpa video itu, mungkin saya tidak akan pernah keluar,” ucapnya.

Agus menuturkan bahwa tak sedikit rekannya yang mengalami gangguan mental akibat tekanan dan kekerasan di tempat kerja tersebut. 

“Ada yang stres berat, ada yang sampai nekat bunuh diri. Bahkan yang sedang sakit dan diinfus pun tetap dipaksa bekerja,” ujarnya.

Kini, meski sudah berada di tanah air, Agus masih mengalami trauma. Dia mengaku masih trauma mendengar suara raket listrik. Sebab dia sempat mengalami penyiksaan dengan cara disetrum listrik.

Sementara itu,  Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Buleleng, Made Juartawan menghimbau agar masyarakat lebih waspada dengan tawaran bekerja ke luar negeri.

Apabila mendapat tawaran bekerja ke luar negeri, sebaiknya masyarakat melakukan konfirmasi kepada pemerintah. Baik itu kepada Disnaker Buleleng maupun pemerintah desa.

“Supaya kami juga bisa cek. Apakah agen atau perusahaan penyalur tenaga kerja ini legal atau tidak. Jangan sampai jadi korban perdagangan orang,” ujarnya. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#pidana #disnaker #jinengdalem #Scam #tppo #tki #thailand #perdagangan orang #penipuan #trauma #pekerja migran #penyiksaan #Liligundi #tenaga kerja indonesia #pmi #buleleng #tenaga kerja #myanmar