SINGARAJA, Radarbuleleng.jawapos.com- Polres Buleleng dalam waktu dekat akan meminta keterangan dari dua orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Buleleng, yang menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Myanmar.
Ini juga untuk membuka tindak kriminal diawali dari iming-iming yang dilakukan seseorang bernama Komang B alias Katak, yang juga berasal dari Desa Jinengdalem, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.
Hal ini diungkapkan Kapolres Buleleng, AKBP Ida Bagus Widwan Sutadi saat mendatangi rumah Nengah Sunaria, 35, warga Desa Jinengdalem, Kecamatan Buleleng pada Selasa (25/3) sekitar pukul 11.30 Wita.
Katanya, sudah ada sepuluh orang saksi yang diperiksa dalam kasus TPPO yang dilaporkan ke Polres Buleleng pada Selasa, 3 September 2024.
Korbannya adalah Sunaria dan Kadek Agus Ariawan alias Agus Moncot, 37, warga Kelurahan Liligundi, Kecamatan Buleleng,.
”Yang sudah diperiksa ada pelapor, saksi-saksi saat perekrutan, termasuk maskapai, juga imigrasi,” ujar AKBP Widwan.
Dalam perkembangan kasus TPPO ini, Kapolres Buleleng mengaku mengalami hambatan, sebab terlapor maupun korban sama-sama berada di luar negeri. Parahnya lagi, mereka tanpa ada kabar alias tidak bisa dihubungi.
Pihaknya pun sudah berkoordinasi penanganan juga ke Bareskrim Polri bagian TPPO di Tipidum, termasuk dengan Kemenlu. Data-data perkembangan sudah disampaikan juga.
Namun AKBP Widwan mengatakan, karena saat itu terlapor dan korban ada di luar negeri, maka tingkatan polisi lebih tinggi yang memiliki kewenangan. Sebab kasus ini melibatkan sejumlah negara.
Terlapor diinformasikan berada di Kamboja, sedangkan dua korban berada di Myanmar.
Namun kini, pasca kembali pulangnya Sunaria dan Agus, polisi akan segera meminta keterangan dari mereka, untuk memperkuat bukti.
”Saat ini pak Nengah Sunaria istirahat dulu, ikuti proses-proses yang ada di rumah. Mungkin setelah Nyepi atau Idullfitri baru kami lakukan pemeriksaan untuk minta keterangan. Pemeriksaan santai saja, tidak perlu yang tegang-tegang,” jelasnya.
Sejak Awal Ditawari Bekerja di Judi Online
Sementara itu, Sunaria mengaku saat ini masih mengalami trauma. Sebab penyiksaan yang dialaminya masih membekas di benaknya, lantaran kejadian tersebut hampir berlangsung selama delapan bulan di Myanmar.
Ia mengungkapkan, penyekapan yang dialaminya seperti dipukul menggunakan besi, kayu, dan kabel lalu disetrum setelah disiram air.
Bahkan ia mengaku mengalami ”olahraga” yang tidak masuk akal selama di Myanmar, seperti angkat dan turun galon sembari berjalan selama dua jam, begitu juga dengan berlari tanpa istirahat selama dua jam.
Hukuman pemukulan pun menanti, apabila dalam ”olahraga” itu ia beristirahat.
”Awalnya saya ditawari bekerja untuk judi online sama Katak, tapi saya tidak mau karena basic saya kerja di restoran. Akhirnya Katak datang lagi bilang bosnya punya restoran dan tawarkan pekerjaan, sehingga saya mau berangkat,” ceritanya.
Menelusur ke belakang, Sunaria menerangkan, ketika berangkat bekerja ke luar negeri pada Senin, 5 Agustus 2024 bersama dengan Agus Moncot dan rombongan lainnya, dilanjutkan terbang ke Thailand pada Selasa, 6 Agustus 2024.
Sampai di sana, ia kemudian menempuh perjalanan darat dari Thailand hingga perbatasan Myanmar.
Namun pikirannya menjadi tidak karuan, setelah perjalanan rombongannya malah masuk ke hutan. Hingga perjalanan lanjut naik sampan, Sunaria melihat ada tentara yang sudah memegang senjata, yang bersiaga.
Setelah mendarat di sebuah lembah di tengah hutan yang ada di wilayah Hpa Lu, daerah terpencil di Myawaddy, Myanmar, mereka masuk ke dalam mobil bersama tentara, dilanjutkan dengan penyitaan barang dan dokumen para PMI.
Di Myanmar, Sunaria diketahui bekerja sebagai scammer atau pelaku penipuan online di sebuah perusahaan scam atau penipuan online, yang disebut KK Park.
Ia diberi target bulanan harus mendapatkan uang dari hasil menipu, sebanyak USD 10 ribu.
Sedangkan untuk target harian, ia menyebut tidak ada, tetapi hanya membagi-bagikan uang ke calon korban, sebagai pancingan.
”Dari awal ingin bekerja ke luar negeri untuk mengubah ekonomi jadi lebih baik. Namun saya terus kena tipu. Untuk saat ini saya istirahat dulu, mau bekerja di Bali saja,” sambungnya.
Sunaria menghimbau kepada masyarakat, agar mencari pekerjaan di luar negeri dengan perusahaan dan prosedur yang jelas.
Bukan karena iming-iming gaji besar, namun pekerjaan yang tidak jelas, malah berujung menjadi korban perdagangan orang.***
Editor : Donny Tabelak