SINGARAJA, Radarbuleleng.jawapos.com- Hotel kelas melati di Kabupaten Buleleng ternyata lebih diminati wisatawan pada libur Hari Raya Idul fitri 1446 Hijriah/2025.
Ini terbukti dengan melonjaknya tingkat hunian (okupansi)-nya, yang berbanding terbalik dengan hotel berbintang yang ada di Bali utara.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara yang mengatakan, kondisi yang berbanding terbalik ini terjadi tidak hanya di kawasan Lovina saja, melainkan juga di kawasan Buleleng lainnya.
Kata Dody Sukma, okupansi hotel berbintang di Buleleng saat ini rata-rata hanya 40 persen saja di kawasan Lovina.
Sementara di wilayah Pemuteran hanya 30 persen saja. Di Buleleng timur dan selatan, okupansi hotel berbintangnya 25 persen.
”Untuk okupansi hotel melati di Buleleng mencapai 60-70 persen untuk libur Idulfitri. Bisa lima hingga 15 kamar terisi tiap harinya,” ungkapnya pada Kamis (3/4) siang.
Menurutnya, sejumlah faktor mempengaruhi peningkatan minat wisatawan untuk memilih hotel melati. Seperti harga yang lebih murah dibandingkan hotel berbintang.
Selain itu, karena kebanyakan wisatawan yang datang saat ini merupakan backpacker, yang notabene tidak membutuhkan waktu lama untuk tinggal.
Karena itulah, mereka lebih memilih hotel melati dengan harga yang terjangkau untuk beristirahat, ketimbang hotel berbintang.
”Harga per kamar hotel melati antara Rp 200-350 ribu per malamnya. Jadi segmen low price menjadi bidikannya. Tetap ada retribusi ke PAD sebesar 10 persen,” ujar Dody Sukma.
Meski okupansi hotel berbintang di Buleleng masih rendah, Dispar Buleleng masih tetap optimis akan ada peningkatan hunian di akhir pekan ini, utamanya pada Sabtu (5/4) dan Minggu (6/4). Mengingat libur Idulfitri berakhir pada Senin (7/4) lalu.***
Editor : Donny Tabelak