Radarbuleleng.jawapos.com- Sekolah yang ada di Kabupaten Buleleng, utamanya tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP), diminta untuk memetakan siswa-siswanya yang berpotensi drop out (DO).
Ini dilakukan, setidaknya dapat mencegah terjadinya pelajar putus sekolah maupun keluar tanpa ijazah.
Hal ini ditegaskan Sekretaris Daerah (Sekda) Buleleng, Gede Suyasa yang mengatakan, meski masih potensi yang artinya belum tentu benar terjadi, namun data yang ada tidak boleh dianggap remeh.
Sebab Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng menyebut ada 182 siswa SMP yang terancam DO.
”Makanya seluruh sekolah harus deteksi siswa yang ada potensi tidak lanjut sekolah. Ini harus dilaporkan, begitu juga dengan faktornya,” ujar Suyasa pada Rabu (30/4).
Dijabarkannya, apabila faktor penyebabnya adalah kesulitan seragam sekolah, sudah ada solusi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng lewat program seragam gratis dari bupati dan wakil bupati.
Kalau jarak sekolah yang jauh, maka disiapkan kendaraan untuk mengangkut pulang pergi, namun wajib berkumpul pada satu titik.
Namun, apabila faktornya adalah motivasi, maka hal ini tentu menjadi tantangan berat.
Maka dari itu, Pemkab Buleleng menggandeng Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Undiksha, agar dapat mendorong motivasi belajar siswa sehingga tinggi kembali.
”Orang tua perlu turut serta dalam penyelesaian persoalan pendidikan. Jangan malah anak disuruh bekerja dan diajak kemana-mana, jadi tidak sekolah. Kalau begitu bukan pendidikan lagi, tapi ekonomi keluarga,” tambah Sekda Suyasa.
Pemkab Buleleng juga meminta dukungan dari perbekel. Mereka diminta untuk memperhatikan anak-anak, apabila ada yang berpotensi DO di wilayah mereka.
APBDes pun dapat membantu penyelesaian kebutuhan dasar siswa, sebab sudah ada dalam juknis penyusunannya.
Semua persoalan pendidikan disebut ada solusinya. Kini tinggal menyiapkan dan menjalankan program, yang sekiranya sejalan dan dapat menjadi jawaban di Buleleng.***
Editor : Donny Tabelak