SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia, Veronica Tan, melakukan kunjungan ke Desa Nagasepaha, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.
Kunjungan itu berlangsung pada Kamis (1/5/2025). Dalam kunjungan itu ia menyempatkan diri melakukan panen padi bersama Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) Kabupaten Buleleng.
Kunjungan itu disambut antusias oleh warga di Desa Nagasepaha. Maklum, ini pertama kalinya desa tersebut dikunjungi pejabat pusat.
Warga desa bahkan sempat melakukan gotong royong pada Minggu (27/4/2025). Mereka menata jalur yang akan dilalui sang pejabat pusat.
Akhirnya pada Kamis pagi, Veronica benar-benar datang ke Desa Nagasepaha. Ia mengunjungi areal persawahan di Subak Babakan.
Dia juga melakukan panen padi di atas lahan milik I Nyoman Jana, salah seorang petani di Desa Nagasepaha.
Jana menceritakan, di subak itu ia memiliki sawah seluas 28 are. Lahan itu merupakan warisan turun temurun dari keluarganya.
Pada musim tanam kali ini, dia mulai menanam pada 20 Januari lalu. Musim tanam kali ini, penuh dengan drama.
Jana menyebut, ia sempat mendapat bantuan bibit inpari-32. Apes, bibit tersebut tidak tumbuh dengan baik. Padahal petani lain di Subak Babakan yang mendapat bantuan bibit serupa, berhasil menanam bibit tersebut.
Alhasil dia terpaksa membeli bibit secara mandiri. “Saya beli ciherang, harganya Rp 150 ribu satu sak. Tumben saya tanam inpari gagal. Padahal teman-teman lain mau tumbuh,” kata Jana.
Pada musim tanam kali ini, dia juga menjadi petani yang paling bontot menanam padi. Sebab rekan-rekan sesama petani ada padinya telah berusia hingga 2 minggu.
Meski terlambat, ia bersyukur padinya bisa tumbuh dengan baik. Dia meyakini sawahnya akan menghasilkan sekitar 100 karung padi.
“Tidak dijual. Saya mau pakai sendiri untuk keluarga. Karena keluarga banyak, ada anak-anak,” ungkap pria yang kesehariannya bekerja sebagai juru parkir di Jalan Diponegoro, Singaraja itu.
Lebih lanjut Jana mengatakan, sekitar dua minggu lalu, ia sempat didatangi oleh seseorang yang mengaku panitia. Dia pun tidak tahu pasti panitia apa yang dimaksud.
Panitia itu bermaksud meminjam lahan miliknya sebagai lokasi panen bagi wakil menteri. Ia pun mengizinkan pihak panitia menggunakan lahannya.
“Tidak ada kepikiran mau didatangi siapa. Saya ini kan orang desa, kerja jadi juru parkir sambil bertani. Apalagi sampai didatangi orang pusat, jelas tidak menyangka,” ungkapnya.
Kini setelah mendapat kunjungan dari orang pusat, ia berharap ada perhatian kepada para petani. Utamanya di pelosok-pelosok desa, seperti di Desa Nagasepaha.
Menurut Jana, salah satu kendala utama yang dihadapi petani adalah persoalan biaya tanam padi.
Untuk mengolah tanah saja, dia harus merogoh biaya Rp 25 ribu per are. Dengan luas lahan 28 are, praktis dia harus merogoh uang Rp 700 ribu hanya untuk membajak sawah.
Belum lagi ongkos tanam bibit. Untuk bibit dia harus menyiapkan anggaran Rp 15 ribu per are.
Demi mengolah lahan dan menanam padi saja, dia harus menyiapkan dana Rp 1,1 juta.
“Selama ini dibantu keluarga lain. Kalau hanya mengandalkan gaji juru parkir, mana ada uang segitu. Kami harap ada perhatian dari ibu pemerintah di pusat terkait ini,” harapnya.
Hal serupa diungkapkan Perbekel Nagasepaha, Wayan Sumeken. Menurut Sumeken, pertanian di desanya digerakkan oleh para ibu. Buruh-buruh tani di Desa Nagasepaha merupakan para ibu. Baik itu saat menanam maupun panen.
“Kami harap ada perlindungan bagi ibu-ibu ini. Supaya mereka bisa bekerja dengan baik. Sekaligus ada peluang untuk meningkatkan taraf hidup mereka lebih baik lagi,” kata Sumeken. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya