Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Belum Bisa Membaca, Ratusan Siswa SMP di Buleleng Ikut Tes IQ

Francelino Junior • Kamis, 8 Mei 2025 | 15:05 WIB

Tes IQ yang digelar Pemkab Buleleng dan Pradnyagama untuk mengidentifikasi penyebab gangguan belajar yang dialami 375 siswa SMP di Bali utara.
Tes IQ yang digelar Pemkab Buleleng dan Pradnyagama untuk mengidentifikasi penyebab gangguan belajar yang dialami 375 siswa SMP di Bali utara.

Radarbuleleng.jawapos.com- Sebanyak 375 orang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di seluruh Kabupaten Buleleng, yang terindikasi mengalami gangguan belajar, mengikuti tes kecerdasan intelektual (IQ) di SMPN 1 Singaraja, pada Rabu (7/5) pagi.

Ini dilakukan sebagai bentuk asesmen, sehingga mengetahui penyebab ratusan siswa itu belum mampu membaca, menulis, dan berhitung (calistung).

Tes IQ ini dilakukan Pemerintah Kabupaten Buleleng yang bekerja sama dengan Pradnyagama.

Sebanyak 375 siswa SMP ini merupakan data tracing terakhir dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng terkait pelajar yang disebut mengalami disleksia atau kesulitan dalam calistung.

Pendampingan dimulai dengan proses asesmen, melibatkan tujuh psikolog yang bertugas mengevaluasi kemampuan akademik, serta faktor penyebab ketertinggalan siswa. Tes ini juga berlangsung selama tiga gelombang.

Menurut Psikolog sekaligus Founder Pradnyagama, Retno Indaryati Kusuma yang mengatakan, dari observasi awal saja sudah terlihat adanya kemampuan dibawah rata-rata yang disebut dengan mongoloid hingga borderline.

Memang orang awam akan melihat siswa-siswa tersebut normal pada umumnya, namun dibalik itu ternyata kemampuan menalarnya yang kurang.

”Kalau hasil tes IQ-nya dibawah 80, berarti memang ada masalah pada intelektualnya. Tapi nilainya diatas 80, kemungkinan karena disleksia. Karena kalau disleksia, IQ-nya normal tapi tidak bisa baca tulis,” ujarnya.

Kata Ratna, setiap anak memiliki minat dan bakat masing-masing. Begitu juga dengan kecerdasan mereka.

Maka ada IQ-nya diatas rata-rata, bahkan ada juga yang dibawah, bahkan melewati batas terbawah.

Seumpama dari 375 siswa SMP itu ditemukan ada yang disleksia bahkan sampai borderline atau disabilitas kemampuan, maka pihaknya meminta Pemkab Buleleng untuk menyediakan kelas inklusif di setiap sekolah.

Tujuannya, agar siswa-siswa tersebut dapat menerima pelajaran yang sesuai dengan tingkat kecerdasan mereka.

”Karena kalau masuk ke SLB, orang tua berpikir kesana karena cacat fisik. Maka perlu kelas inklusif. Sehingga diajarkan sesuai kemampuan pribadi mereka masing-masing,” tambahnya.

Sementara itu Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra menyampaikan, langkah ini dilakukan sebagai upaya agar siswa-siswa tersebut dapat tetap menerima pembelajaran.

Sehingga asesmen ini dilakukan, agar dapat ditentukan rekomendasi individual bagi tiap siswa, untuk mendapatkan langkah penanganan lanjutan.

Nantinya, ke-375 orang siswa SMP itu akan klasifikasi kemampuan seperti tingkatan normal, borderline, atau retardasi mental ringan hingga berat.

Siswa dengan hambatan ringan, akan difasilitasi melalui sekolah inklusif atau kelas khusus. Agar mereka tidak merasa tertekan saat belajar bersama siswa lain. 

”Kami ingin mereka ini tetap mendapatkan pendidikan yang layak, termasuk pelatihan keterampilan dan pengembangan minat bakat,” jelas Sutjidra.

Rencananya, setelah asesmen, para orang tua siswa akan dipanggil untuk mendapat konseling tentang cara mendukung anak di rumah.

Kolaborasi dengan keluarga dan lingkungan terdekat sangat krusial, agar anak bisa mandiri. Terutama yang sudah remaja dan akan memasuki tingkat SMA.

Selain itu, upaya lainnya yang akan dilakukan yakni penunjukan penanggung jawab khusus di tiap sekolah untuk siswa berkebutuhan khusus, penandatanganan pakta integritas oleh kepala sekolah dalam penanganan inklusi, juga pengembangan kelas dengan metode belajar yang sesuai kapasitas siswa.

”Tekanan psikologis atau breakout hingga drop out harus dihindari. Pelatihan keterampilan sesuai minat untuk mempersiapkan kemandirian, disesuaikan dengan rekomendasi dari psikolog yang bertugas,” tandasnya.

Selain di SMP, Pemkab Buleleng juga akan menggelar langkah asesmen ini ke tingkat SD.

Sebab ada 842 siswa utamanya di kelas 4, 5, dan 6 yang tidak bisa calistung. Nantinya, mereka juga akan mendapatkan bimbingan intensif sebelum naik ke SMP.***

Editor : Donny Tabelak
#bupati buleleng #siswa smp #gangguan belajar #pemkab buleleng #kesulitan membaca #disleksia