Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Banyak Lontar Rusak karena Salah Simpan, Ini Langkah Gedong Kirtya

Eka Prasetya • Selasa, 20 Mei 2025 | 20:45 WIB
RAWAT LONTAR: Tim dari Museum Lontar Gedong Kirtya saat melakukan perawatan lontar milik masyarakat.
RAWAT LONTAR: Tim dari Museum Lontar Gedong Kirtya saat melakukan perawatan lontar milik masyarakat.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Upaya pelestarian warisan leluhur terus digencarkan Dinas Kebudayaan Buleleng melalui Museum Gedong Kirtya. 

Tahun ini, museum lontar di Bali itu mulai turun langsung ke masyarakat untuk menginventarisasi dan merawat lontar milik warga. 

Tim bergerak melakukan konservasi di delapan titik yang tersebar di enam kecamatan. Tim melakukan konservasi sejak akhir April hingga Mei.

Kegiatan pendataan dan konservasi dimulai dari Banjar Bale Agung, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan Buleleng. 

Di lokasi tersebut, tim berhasil mendata 19 cakep lontar milik Jro Mangku Desa yang mukim di Bale Agung. 

Lontar-lontar tersebut memuat beragam teks penting, seperti Usada, Wariga, Kekawin Bharata Yuda, Kalapasan, hingga Sundari Gama dan Pasewakan. Dari keseluruhan lontar, enam di antaranya ditemukan dalam kondisi rusak berat.

Tim juga menyambangi titik-titik lain sesuai dengan permintaan warga. Guna melakukan identifikasi dan konservasi lontar.

Kepala Museum Gedong Kirtya Buleleng, Dewa Ayu Susilawati menjelaskan, program tersebut bukan pendataan. Tim juga melakukan pembersihan, perawatan, serta edukasi kepada pemilik lontar mengenai tata cara penyimpanan yang tepat.

“Banyak lontar rusak karena pemiliknya belum tahu bagaimana cara merawat dan menyimpan lontar dengan benar. Melalui kegiatan ini, kami ingin membantu sekaligus memberikan edukasi. Harapannya, lontar-lontar warisan leluhur ini bisa tetap terjaga,” jelas Susilawati.

Menariknya, jika dalam proses inventarisasi ditemukan lontar yang belum tercatat dalam koleksi Museum Gedong Kirtya, tim akan meminta izin pemilik untuk melakukan duplikasi. 

Lontar hasil duplikasi ini nantinya akan menjadi koleksi tambahan di museum, yang dapat diakses oleh masyarakat luas.

“Kalau ada lontar yang belum kami miliki dan pemiliknya bersedia diduplikasi, itu akan menambah kekayaan referensi museum. Semakin banyak lontar yang diduplikasi, semakin banyak pula pengetahuan yang bisa diwariskan kepada generasi mendatang,” demikian Susilawati. (*)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#kebudayaan #bali #museum #warisan #leluhur #gedong kirtya #lontar #buleleng #konservasi