SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Bonsai bukan hal asing di tengah masyarakat. Tanaman mungil dalam pot ini tidak hanya mempercantik halaman rumah, tetapi juga menjadi ladang hobi yang bisa menyentuh jiwa. Bahkan mendatangkan cuan.
Bonsai berasal dari bahasa Jepang. Secara harfiah, bonsasi berarti “pohon dalam wadah”. Bonsai bertujuan menciptakan miniatur pohon besar yang tampak tua dan estetik, layaknya tumbuh alami di alam bebas.
Namun bagi Ketut Windu Saputra, 44, perawatan bonsai tak bisa disamakan dengan sekadar menyiram tanaman. Tapi lebih dari itu. Butuh jiwa, hati, dan kesabaran penuh.
“Bonsai itu seni. Seperti gambar yang hidup dan bergerak mengikuti alam,” ujar pria yang akrab disapa Om Bejo.
Menurut pria asal Bueleng itu, merawat bonsai secara tidak sadar bisa menjadi terapi emosional. “Emosi, ego, dan keinginan berlebihan perlahan luruh saat kita rutin merawat pohon. Prosesnya melatih kesadaran dan kesabaran,” sambungnya.
Perawatan bonsai memang tidak bisa instan. Setiap hari wajib disiram, seminggu sekali diberi pupuk dan vitamin.
Setiap bulan harus melakukan wearing atau pengarahan cabang. Lalu setahun sekali dilakukan penggantian pot dan pemangkasan akar.
Hal yang kerap menguji kesabaran adalah saat cabang atau tunas tumbuh tidak sesuai harapan.
“Misalnya, kita inginkan cabang ke kanan, eh malah tumbuh ke kiri. Di situ tantangannya,” katanya sambil tertawa.
Om Bejo menekankan, setiap spesies bonsai punya karakteristik unik. Ada yang butuh banyak sinar matahari, ada juga yang cukup ditempatkan di tempat teduh. Karena itu, pemahaman terhadap kebutuhan tiap jenis pohon jadi kunci utama.
“Jangan takut bonsai mati. Kita nggak pernah tahu kapan dia mati. Yang penting, kita awasi dan rawat tiap hari. Jangan berkecil hati kalau gagal,” pesannya.
Menariknya, nilai bonsai tidak selalu ditentukan dari bentuk pohon semata. Ia mencontohkan, ada bonsai yang awalnya diperkirakan hanya laku Rp 200 ribu. Namun karena dinilai unik oleh kolektor, malah terjual Rp 5 juta.
“Bonsai termurah bisa Rp 100 ribu, tapi ada juga yang tembus Rp 1 miliar. Penentu harga biasanya umur, jenis pohon, ukuran, dan gerakan batang atau cabangnya,” ungkapnya.
Budidaya bonsai pun turut menggeliatkan ekonomi. Banyak pihak terlibat, mulai dari pendongkel yang mencari bibit di hutan, petani bonsai, hingga pelaku jasa perawatan dan penjual pot.
“Semua ini membentuk perputaran ekonomi dari satu pohon kecil,” ujar Om Bjo yang rutin menggelar Pameran Nasional Bonsai di Buleleng selama dua tahun terakhir.
Menurutnya, bonsai juga bisa menjadi investasi jangka panjang. Di sisi lain, hampir semua rumah memiliki tanaman, sehingga bonsai juga bisa berperan memperindah hunian sekaligus membantu suplai oksigen.
“Bermain bonsai bisa membuka relasi lintas profesi. Karena yang menekuni ini datang dari berbagai latar belakang,” tandasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya