Radarbuleleng.jawapos.com- Dalam pencegahan stunting, keluarga memiliki peran yang sangat penting dan vital, terutama ayah dan ibu.
Hanya saja, peran ayah dalam mengasuh anak terkadang kurang maksimal. Hal ini juga mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A), I Nyoman Riang Pustaka mengatakan, peran ayah dalam mengasuh anak sama pentingnya dengan kehadiran seorang ibu.
Pihaknya menyebut, selama ini hampir seluruhnya pendamping anak ke posyandu adalah ibu-ibu.
Berdasarkan data, jumlah keluarga berisiko stunting di Buleleng pada 2024 sebanyak 19.715 orang, yang tertinggi di Kecamatan Buleleng sebanyak 3.466 orang.
Pada 2023, tercatat ada 29.111 orang, yang terbanyak ada di Kecamatan Buleleng yakni 4.619 orang.
Lalu pada 2022, ada sebanyak 37.645 orang, tertinggi di Kecamatan Buleleng sebanyak 5.507 orang.
”Sering dibicarakan stunting secara fisik, tetapi jarang membahasnya dari sisi emosional. Ketika ayah tidak terlibat, maka anak kehilangan pondasi emosional yang kuat,” ujarnya pada Minggu (22/6).
Dinas P2KBP3A Buleleng pun melakukan sosialisasi, guna meningkatkan kesadaran masyarakat. Pendekatan juga dilakukan dengan kreatif dan adaptif.
Selain melalui media sosial dan tokoh hiburan, juga dilakukan pemanfaatan media tradisional seperti bondres, seni pertunjukan rakyat Bali yang dikemas dengan pesan edukatif.
Sosialisasi juga dilakukan di sembilan balai keluarga, sasarannya yakni remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu balita, ayah, dan lansia.
Sebab ini bagian dari upaya mewujudkan keluarga berkualitas, sebagai benteng utama pencegahan stunting.
”Melalui pertunjukan dan dialog, kami ingin agar pesan tentang pentingnya gizi, kesehatan, dan peran keluarga tersampaikan secara menyenangkan dan mudah dicerna,” lanjut Riang Pustaka.
Pemerintah berharap seluruh orang tua, terutama ayah, untuk aktif terlibat dalam mengawal tumbuh kembang anak melalui posyandu.
Sebab posyandu merupakan ruang yang berguna untuk memastikan anak-anak tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia.
Penguatan peran posyandu sebagai ujung tombak layanan kesehatan keluarga di tingkat desa dan kelurahan, terus digalakan sebagai langkah strategis dalam upaya menurunkan angka stunting, dan meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak.
Maka dari itu, orang tua diminta untuk datang ke posyandu bukan ketika anak jatuh sakit saja.
”Ini bukan hanya tentang berat dan tinggi badan, tapi tentang masa depan generasi. Di posyandu bukan sekadar rutinitas penimbangan, tetapi menjadi upaya menyeluruh dalam mencegah stunting sejak dini,” tutup kepala Dinas P2KBP3A Buleleng.***
Editor : Donny Tabelak