Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Mancing Jadi Tren Anak- anak hingga Orang Dewasa, Jalani Hobi Sekalian Healing

Francelino Junior • Senin, 30 Juni 2025 | 18:05 WIB

 

Suasana memancing di Pelabuhan Tua Buleleng. Memancing kini tidak hanya digemari orang dewasa, tetapi juga digandrungi oleh generasi muda.
Suasana memancing di Pelabuhan Tua Buleleng. Memancing kini tidak hanya digemari orang dewasa, tetapi juga digandrungi oleh generasi muda.

 

 

Radarbuleleng.jawapos.com- Belakangan ini, memancing menjadi hal yang lumrah dan kerap dijumpai.

Biasanya, memancing yang hanya dilakukan oleh orang dewasa, kini juga dilakukan oleh anak-anak muda.

Apalagi di masa liburan ini, adanya waktu senggang membuat spot-spot mancing menjadi semakin ramai.

Aktivitas mancing saat ini tidak hanya identik dengan orang tua saja, namun anak muda pun kini menggandrunginya.

Selain karena pengaruh orang tua, inginnya generasi muda memancing juga karena banyaknya konten-konten memancing di media sosial.

Tentu saja itu menarik perhatian dan rasa penasaran. Seperti apa rasanya merasakan sensasi kledutan? 

Istilah kledutan menggambarkan sensasi saat ikan memakan umpan yang ada di kail.

Sehingga saat mulut ikan tersangkut kail, maka muncul sensasi tarikan. Jika di dunia permancingan, maka istilah bekennya adalah strike.

”Tiga sampai empat kali dalam seminggu kalau mancing. Tergantung pengennya saja. Lokasinya bisa di Pelabuhan Tua Buleleng, Pantai Skip, sampai Pantai Penimbangan,” ujar salah satu pemancing, Edi Nurdin, 35, asal Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Dalam perjalanan memancingnya, Edi mengaku menemukan ketenangan. Katanya, meski memancing diperlukan kesabaran, tetapi malah memunculkan ketenangan yang hakiki.

Sebab dalam fokusnya, ia dapat mengendalikan diri, emosi, serta nafsu yang menggebu.

Memancing pun bukan sekedar menjalankan hobi, sebab di balik itu ada banyak masalah hidup yang dapat sirna, meski hanya seketika saja.

Tetapi setidaknya, ada rasa gembira yang hadir di tengah-tengah jiwa pemancing. 

”Sekali dapat tarikan, punya masalah apapun jadi hilang, terutama stres. Sering begitu. Kadang bisa lempar pancing saja sudah senang,” lanjutnya.

Karena berdasarkan hobi, maka dapat atau tidaknya ikan pun sangat disyukurinya.

Terkadang ia mendapatkan ikan baronang dan jangki. Tetapi kembali lagi situasi cuaca saat memancing, juga menentukan ikan mau mampir ke kail dan menjadi santapan.

Ini juga menjadi pembeda antara pemancing hobi di pinggiran dan nelayan yang memang memancing untuk bertahan hidup. Maka ada teknik mancing dengan pelampung dan pemberat.

”Memancing awal-awal sendiri. Tapi sering ketemu orang hobi mancing di lokasi, jadi kenal. Terus bareng-bareng mancing,” kata Edi.

Tanggapan berbeda juga diberikan oleh Kadek Suka, 28, warga Desa Padangbulia, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Hampir senada dengan pemancing lainnya, memancing yang dijalaninya memang hanya hobi dan mengisi waktu luang saja.

Meski intensitas memancingnya hanya satu sampai tiga kali dalam seminggu, tetapi ketika berada di pantai untuk memancing, ia menikmati aroma segar uap air laut, ditambah dengan suara deburan ombak.

Itu menjadi sebuah sensasi ketenangan yang berbeda baginya, ketika lepas dan jenuhnya pekerjaan sehari-sehari.

Apalagi ketika memancing di Pelabuhan Tua Buleleng, ada pemandangan khas yang ia temukan.

Ketika melihat ke utara, yang dipandangnya adalah hamparan laut Bali yang memanjakan mata.

Menghadap utara, yang dilihat adalah jembatan ikonik yang dibangun Belanda. Jejeran bangunan di sana diibaratkan Venesia, Italia. Meski tidak mirip-mirip juga.

”Kalau mancing seringnya ikut teman. Jadi tidak sendiri juga. Biasanya dapat ikan sadar,” katanya.

Suka menyebut, memancing tidak hanya jadi urat nadi nelayan, tetapi juga para generasi muda yang memang ingin menghilangkan penat serta ingin ketenangan.

Namun ada juga yang menjadikan hobi mancing sebagai ladang mencari cuan, melalui media sosial.

Tetapi begitulah masing-masing orang memahami arti memancing. Sebab dengan banyaknya isi kepala, maka sudut pandang akan sebuah kegiatan pun sudah pasti berbeda.

Ini juga tergantung tujuannya. Ada yang hobi, healing, bertahan hidup, bahkan jadi konten.

”Ada juga yang bikin konten sekaligus mancing. Jadi coba-coba peruntungan. Hobi dapat, konten juga siapa tahu naik,” tandasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#mancing #tren #healing #pelabuhan tua buleleng