BANJAR, RadarBuleleng.id – Pemkab Buleleng bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengukuhkan relawan Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim (PRB-API) dari delapan desa di Buleleng.
Para relawan itu diharapkan dapat membantu pemerintah dalam melakukan pencegahan, mitigasi, hingga penanggulangan bencana. Pengukuhan itu berlangsung di Krisna Kuliner Temukus, pada Kamis (17/7/2025).
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, Putu Ariadi Pribadi mengatakan, para relawan akan mengikuti program bertajuk Ketangguhan Masyarakat terhadap Bencana dan Perubahan Iklim.
Program tersebut akan berlangsung selama 1,5 tahun, mulai Juni 2025 hingga Desember 2026.
Adapun desa-desa yang menjadi sasaran adalah desa di Kecamatan Seririt. Meliputi Kelurahan Seririt, Desa Ularan, Ringdikit, Patemon, Lokapaksa, Bubunan, Pengastulan, dan Sulanyah.
Baca Juga: Lapor Pak! BPBD Tabanan Kekurangan Alat Sarpras Penanggulangan Bencana
Program ketangguhan bencana diharapkan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana dan perubahan iklim, membentuk relawan di tingkat desa desa, serta memperkuat ketahanan ekonomi kelompok UMKM, khususnya perempuan.
“Program ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang membangun ketangguhan berbasis masyarakat. Tidak hanya soal kesiapsiagaan, tetapi juga penguatan ekonomi lokal yang berkelanjutan,” ujarnya.
Kegiatan ini didukung penuh oleh Program SIAP SIAGA yang memberikan bantuan pendanaan melalui Program Kanal. Pihak BPBD berharap kerja sama lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, hingga lembaga swasta dapat diperkuat demi menciptakan masyarakat yang lebih tangguh dan adaptif.
“Harapan kami, pembentukan relawan dan pelatihan relawan bisa menjadi program tahunan yang menjangkau seluruh desa dan kelurahan di Buleleng,” ujar Ariadi.
Sementara itu, Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna mengatakan, Buleleng merupakan wilayah yang memiliki potensi bencana cukup tinggi.
Selain rawan gempa bumi dan tanah longsor, perubahan iklim juga memicu bencana seperti kekeringan, banjir, hingga kebakaran hutan.
“Secara geografis, Buleleng berada di antara pegunungan dan pantai, sehingga tingkat kerentanannya cukup tinggi terhadap berbagai jenis bencana. Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat sangat penting,” ujarnya.
Supriatna mengapresiasi pengukuhan relawan dari delapan desa tersebut. Menurutnya keterlibatan relawan sangat penting untuk mewujudkan kesiapsiagaan berbasis komunitas.
“Kehadiran para relawan ini sangat vital, mereka adalah ujung tombak dalam penanggulangan dan mitigasi bencana di wilayah masing-masing,” demikian Supriatna. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya