Bali Birokrasi Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum Kriminal Kesehatan Kuliner Nasional Nusantara Olahraga Otomotif Pariwisata Pendidikan Politik Sosial Budaya Update Buleleng

Singaraja Literary Festival Kembali Digelar, Usung Lontar “Buda Kecapi” Sebagai Tema

Eka Prasetya • Sabtu, 26 Juli 2025 | 22:08 WIB
BICARA SASTRA: Pembukaan Singaraja Literary Festival di Sasana Budaya.
BICARA SASTRA: Pembukaan Singaraja Literary Festival di Sasana Budaya.

SINGARAJA, RadarBuleleng.id – Ajang sastra paling bergengsi di Kota Singaraja, Singaraja Literary Festival (SLF) kembali digelar tahun ini.

Memasuki penyelenggaraan tahun ketiga, SLF 2025 mengusung tema “Buda Kecapi”, yang terinspirasi dari kekayaan literatur lontar Bali. Acara pembukaan berlangsung di Gedung Sasana Budaya, Jumat malam (25/7/2025). 

Direktur Singaraja Literary Festival, Kadek Sonia Piscayanti, menjelaskan bahwa tema “Buda Kecapi” mengandung makna yang dalam.

“Ini adalah tema lontar yang kami acu. Buda Kecapi berarti energi penyembuhan bagi semesta,” ujarnya.

Sonia menambahkan, setiap tahun SLF memang selalu merujuk pada tema dari manuskrip lontar yang menjadi koleksi Gedong Kirtya. Bahkan pihaknya telah memetakan 10 tema untuk penyelenggaraan SLF hingga satu dekade mendatang.

"Kenapa lontar? Karena Singaraja punya Gedung Kirtya yang menyimpan lebih dari 2.000 koleksi lontar. Warisan ini sangat kaya dan harus dihidupkan kembali," imbuhnya.

Yang menarik, SLF tidak hanya membedah lontar dari sisi akademik. Yayasan Mahima Institute Indonesia melakukan proses alih wahana lontar menjadi karya kreatif. Baik itu sastra, teater, musik, hingga film.

"Kami yakin, kalau lontar dialihwahanakan, generasi muda akan lebih mudah mengakses dan memahami isinya," terang Sonia.

SLF 2025 dibuka Dirjen Pengembangan Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Ahmad Mahendra, didampingi Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna.

Dalam sambutannya, Supriatna mengapresiasi pelaksanaan SLF. Ia menyebut festival tersebut sebagai momentum kebangkitan sastrawan Buleleng.

"Dulu, Singaraja pernah melahirkan sastrawan besar yang dikenal dunia, Anak Agung Panji Tisna. Singaraja Literary Festival ini menjadi penanda bahwa denyut sastra itu masih hidup di kota ini," tegasnya.

Supit juga mengungkap, di awal SLF digagas tiga tahun lalu, banyak yang pesimis. Namun semangat dan komitmen Yayasan Mahima berhasil membuktikan bahwa sastra bisa kembali mendapat tempat di tengah masyarakat.

"Tiga tahun berjalan, SLF kini telah menjadi kebanggaan kita bersama. Ini bukti bahwa dengan cinta terhadap budaya dan keseriusan, segala tantangan bisa dilampaui," tutupnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.

Editor : Eka Prasetya
#bali #Alih wahana #slf #sastra #gedong kirtya #manuskrip #lontar #Singaraja Literary Festival #koleksi #Singaraja #festival