GEROKGAK, RadarBuleleng.id - Warga Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, dikejutkan dengan temuan dua ekor kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) di kawasan Hutan Lindung desa setempat.
Satwa langka ini diketahui terancam kehilangan habitat alaminya akibat berkurangnya kawasan hutan.
Penemuan tersebut bermula saat seorang warga negara asing (WNA) bernama John berjalan di jalur setapak menuju Pantai Pasir Putih, Pejarakan, Minggu (17/8/2025) lalu.
Ia menemukan dua anakan kucing kuwuk di pinggir jalan hutan. Setelah menunggu induknya cukup lama namun tak kunjung muncul, John akhirnya menyerahkan keduanya ke penangkaran Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (JSI) di Desa Pejarakan.
Pemerintah Desa Pejarakan langsung berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Bali terkait temuan ini.
Luasnya kawasan hutan lindung Pejarakan yang mencapai ribuan hektare membuka kemungkinan masih ada satwa langka lain yang mendiami wilayah tersebut.
“Ini penemuan pertama di desa kami. Belum pernah ada laporan sebelumnya. Warga saya imbau untuk segera melapor jika menemukan satwa serupa,” ujar Perbekel Pejarakan, Made Astawa.
Kucing kuwuk sendiri merupakan satwa dilindungi sesuai UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Permen LHK No. P.106 Tahun 2018.
Corak tubuhnya khas dengan motif totol mirip macan tutul, meski tidak memiliki hubungan langsung dengan spesies tersebut.
Menurut Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko, kucing kuwuk sebelumnya juga tercatat pernah ditemukan di Tabanan dan Denpasar.
“Kucing ini masuk daftar satwa langka terancam punah. Keberadaannya penting karena menjaga keseimbangan ekosistem, terutama dengan memangsa tikus dan serangga hama,” jelasnya.
Dua kucing kuwuk yang kini berada di penangkaran JSI diketahui masih berusia sekitar tiga minggu dengan berat 350–400 gram. Keduanya berjenis kelamin betina dan dalam kondisi sehat.
Saat ini mereka menjalani proses rehabilitasi di kandang khusus yang dibuat menyerupai lanskap Hutan Bali Barat.
Perawatan dilakukan secara intensif, mulai dari pemberian susu dan pakan setiap tiga jam sekali, vitamin harian, hingga pemeriksaan medis.
“Karena masih anakan, mereka harus dijaga di ruangan hangat. Setiap malam juga dipasang penghangat tambahan. Induknya hingga kini belum berhasil ditemukan,” ungkap drh. Farida Ulya dari JSI.
Proses pelepasliaran kedua satwa ini akan dilakukan setelah mereka dinilai siap secara fisik dan perilaku.
Tahapan penentunya antara lain kemampuan berburu, beradaptasi dengan lingkungan hutan, hingga mengasah insting bertahan hidup. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya