SINGARAJA, RadarBuleleng.id - Peristiwa kebakaran di Kabupaten Buleleng meningkat signifikan dalam tiga bulan terakhir.
Meski sebagian besar merupakan kebakaran lahan, banyak di antaranya disebabkan oleh kelalaian masyarakat.
Data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Buleleng mencatat, sejak Juli 2025 terjadi 14 kasus kebakaran, kemudian meningkat menjadi 18 kasus pada Agustus, dan melonjak menjadi 33 kasus pada September.
Plt. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Buleleng, Komang Kappa Tri Aryandono membenarkan lonjakan tersebut.
Ia mengatakan, sebagian besar insiden terjadi akibat aktivitas pembakaran yang tidak diawasi dengan baik.
“Banyak kasus dipicu pembakaran sampah di lahan kering yang kemudian merembet menjadi kebakaran,” ujarnya.
Baca Juga: Tanamkan Nilai Demokrasi, KPU Buleleng Roadshow ke Siswa SMP
Menurutnya, kondisi tahun ini cukup unik karena musim kemarau tergolong basah, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya ketika puncak kekeringan biasanya terjadi pada September hingga pertengahan Oktober.
Dari sembilan kecamatan di Buleleng, wilayah dengan risiko kebakaran tertinggi berada di Kecamatan Gerokgak, lantaran memiliki banyak lahan kering.
Namun, sepanjang September justru Kecamatan Buleleng mencatat jumlah kejadian terbanyak, yakni 12 kasus kebakaran.
Sebagai langkah antisipasi, pihaknya menindaklanjuti himbauan Bupati Buleleng agar camat dan perbekel memastikan tidak ada aktivitas pembakaran sampah di wilayah masing-masing.
“Secara aturan, pembakaran sampah memang dilarang. Tapi praktiknya masih sering dijumpai dan berpotensi meluas jadi kebakaran, bahkan di area Tempat Pembuangan Sampah (TPS),” jelasnya.
Kappa menambahkan, tahun ini Dinas Damkar telah menyusun sistem proteksi kebakaran sekaligus membentuk relawan kebakaran di setiap kecamatan.
Namun, karena keterbatasan anggaran, relawan tersebut belum dapat dilengkapi dengan alat pemadam api ringan (APAR).
“Kami berharap para perbekel bisa mengalokasikan anggaran desa untuk mendukung upaya proteksi kebakaran. Pendekatan kami juga menyasar pelaku usaha agar memiliki sistem proteksi internal,” imbuhnya.
Saat ini, Damkar Buleleng hanya memiliki tiga pos induk yang tersebar di Buleleng, Kubutambahan, dan Seririt.
Armada yang tersedia juga terbatas, karena pengadaan terakhir dilakukan pada tahun 2008.
Kondisi geografis Buleleng yang luas membuat respon time hanya optimal jika kebakaran terjadi di sekitar pos.
“Walaupun fasilitas terbatas, kami tetap berkomitmen siaga penuh. Seluruh peralatan rutin kami periksa agar siap digunakan kapan pun ada panggilan. Namun, masyarakat juga perlu memahami jika terkadang ada kendala teknis di lapangan,” tandasnya. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya