RadarBuleleng.id – Fenomena kekeringan ekstrem kian mengkhawatirkan di Bali bagian utara.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Bali secara resmi menerbitkan Peringatan Dini Kekeringan Ekstrem yang berpusat di Kabupaten Buleleng.
Warga, terutama di wilayah pesisir timur, diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman krisis air bersih dan potensi bencana hidrometeorologi lainnya.
Menurut data mutakhir dari BMKG, satu wilayah di Buleleng telah mencapai status tertinggi dalam kategori kekeringan, yakni kekeringan ekstrem.
Wilayah tersebut adalah Kecamatan Tejakula, di mana pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) menunjukkan durasi tidak turun hujan telah melampaui 60 hari berturut-turut.
Kepala Stasiun Klimatologi Bali BMKG, Aminudin Ar Roniri menjelaskan, bahwa kriteria kekeringan ekstrem diterapkan ketika HTH sudah melebihi ambang batas 60 hari.
Kondisi tersebut secara signifikan mengancam cadangan air permukaan dan air tanah, membuat masyarakat yang bergantung pada sumber air alami rentan mengalami kelangkaan air minum dan irigasi.
"Peringatan ini adalah lampu merah bagi daerah tersebut. Kami meminta pemerintah daerah dan masyarakat segera mengambil langkah mitigasi aktif, terutama untuk menjamin ketersediaan air minum yang layak," tegas Aminudin.
Dampak dari kekeringan ekstrem Buleleng ini tidak hanya berujung pada masalah air bersih.
Hal itu juga meningkatkan risiko bencana turunan, terutama Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang dipicu oleh vegetasi kering.
Menanggapi kondisi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng telah meningkatkan koordinasi lintas sektor.
Salah satu upaya mitigasi yang diprioritaskan adalah distribusi air bersih.
Dalam rapat koordinasi yang diadakan baru-baru ini, BPBD Buleleng memastikan kesiapan armada mobil tangki untuk menyalurkan air ke desa-desa yang kesulitan akses air.
Meskipun tantangan topografi Buleleng yang didominasi perbukitan sering menjadi kendala, upaya penyaluran dilakukan secara terencana dan terpadu.
Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Putu Ariadi Pribadi menyebutkan, BPBD telah menyusun dokumen kajian risiko bencana bersama BMKG sebagai acuan dalam perencanaan mitigasi di lapangan.
"Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan BMKG, perangkat desa, Dinas PU, dan DLH sangat penting untuk memastikan penanganan darurat kekeringan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat," jelasnya.
Meskipun saat ini berada di masa sulit, BMKG memberikan prediksi yang cukup melegakan terkait berakhirnya musim kemarau.
Diproyeksikan, sebagian besar wilayah Bali, termasuk Buleleng, akan memasuki awal musim hujan pada Desember 2025.
Sementara itu, puncak musim hujan di Bali diprediksi akan terjadi pada Januari hingga Februari 2026.
Masyarakat diimbau untuk tidak panik, tetapi tetap menerapkan langkah-langkah konservasi air di kehidupan sehari-hari.
Selain itu, warga diminta untuk tidak melakukan pembakaran lahan atau membuang puntung rokok sembarangan yang dapat memicu Kebakaran hutan dan lahan di tengah kondisi lingkungan yang sangat kering. (*)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini RadarBuleleng.id, silahkan bergabung di WhatsApp Channel "Radar Buleleng" dengan klik link berikut ini: Join WhatsApp Channel Radar Buleleng.
Editor : Eka Prasetya